Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Facebook Akhirnya Buka Suara Terkait Penembakan Christchurch

Sabtu 30 Mar 2019 13:47 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Gita Amanda

Gambar yang diambil dari video terduga pelaku penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3).

Gambar yang diambil dari video terduga pelaku penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3).

Foto: AP
Facebook menyatakan akan meninjau ulang kebijakan siaran streaming video langsungnya

REPUBLIKA.CO.ID, KALIFORNIA -- Selama ini Facebook bungkam, setelah hujanan kritik atas aksi penembakan di masjid di Christchucrh di mana pelaku melakukan siaran langsung di platform media sosial yang didirikan Mark Zuckerberg tersebut. Baru-baru ini, Facebook akhirnya merespons kritikan itu melalui surat pernyataan dari Sheryl Sandberg, Chief Operating Officer Facebook di Newald Herald.

Dilansir laman The Guardian, Sabtu (30/3), Facebook menyatakan akan meninjau ulang kebijakan siaran streaming video langsung di platform tersebut. Namun Facebook tidak mengumumkan perubahan kebijakan terkait siaran langsungnya.

Baca Juga

Dalam pernyataannya Sheryl menyatakan duka cita mendalam untuk para korban penembakan. "Kita semua di Facebook berdiri bersama para korban, keluarga mereka, komunitas Muslim, dan semua pihak di Selandia Baru," tulis pernyataan.

Pernyataan itu juga membahas bagaimana masyarakat telah mempertanyakan langkah Facebook. Banyak yang bertanya bagaimana platform daring seperti Facebook digunakan untuk menyebarkan video serangan jahat yang mengerikan. "Kami telah mendengar masukan bahwa kami harus berbuat lebih banyak, dan kami setuju," lanjut pernyataan.

Surat itu keluar setelah pekan-pekan penuh kritikan terhadap Facebook. Eksekutif Fecebook dianggap kurang responsif terhadap negara yang sedang berduka.

Dua pekan setelah ekstremis menggunakan Facebook untuk menyiarkan video langsung penembakan hingga menewaskan 50 jamaah Muslim di Selandia Baru, Facebook sempat bungkam. Baru sekarang, Facebook menyatakan akan menjajaki pembatasan video streaming langsung.

Facebook diminta membangun teknologi yang lebih baik dan cepat guna mengidentifikasi video dan gambar kekerasan. Sehingga dapat mencegah orang membagikan kembali versi-versi video yang tidak pantas.

Di samping itu, masih ada anggapan sang kepala eksekutif Facebook, Mark Zuckerberg baru akan berkomentar jika insiden terjadi di Amerika, sedangkan saat terjadi insiden di Selandia Baru tidak langsung merespons.

Tapi yang jelas, pertanyaan-pertanyaan itu direspons pihak Facebook dengan menyatakan akan lebih waspada dan melakukan perbaikan. Juru bicara Facebook menolak berkomentar apakah penembak Christchurch akan dilarang melakukan streaming langsung lagi ke depannya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA