Sabtu 06 Apr 2019 14:35 WIB

PBB Diminta Deklarasikan Venezuela Darurat Kemanusiaan

Sistem kesehatan Venezuela mengalami kehancuran total.

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah
Migran Venezuela di Bogota, Kolombia, Jenifer Salas (27 tahun) menggendong bayinya, 4 April 2019.
Foto: AP Photo/Fernando Vergara
Migran Venezuela di Bogota, Kolombia, Jenifer Salas (27 tahun) menggendong bayinya, 4 April 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Pakar kesehatan dari Johns Hopkins University Shannon Doocy menyatakan PBB harus secara resmi mendeklarasikan keadaaan darurat kemanusiaan skala penuh di Venezuela. Ini terjadi setelah kehancuran total pada sistem kesehatan Venezuela.

"Tidak peduli seberapa keras mereka berusaha, otoritas Venezuela tidak dapat menyembunyikan kenyataan di lapangan," kata profesor kesehatan internasional itu yang melakukan penelitian di perbatasan Venezuela, dilansir di The Guardian, Sabtu (6/4).

Baca Juga

Laporan baru yang diterbitkan Human Right Watch melaporkan peringatan kembalinya penyakit menular, meningkatnya tingkat kekurangan gizi, dan kematian bayi serta ibu. Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menyerukan kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres untuk menyatakan darurat kemanusiaan yang kompleks.

Para peneliti mengklaim tanggapan pemerintah Maduro tidak memadai. Mereka mengatakan deklarasi resmi akan sepenuhnya membuka dan memobilisasi makanan, obat-obatan, dan perawatan kesehatan bagi jutaan orang yang membutuhkan.

"Sistem kesehatan Venezuela dalam kehancuran total. Dikombinasikan dengan kekurangan pangan yang meluas, hal ini menumpuk penderitaan dan menempatkan lebih banyak lagi orang-orang Venezuela dalam risiko. Kami membutuhkan kepemimpinan PBB untuk membantu mengakhiri krisis yang parah ini dan menyelamatkan nyawa," ujar Doocy.

Bulan lalu, Federasi Internasional Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah mengumumkan akan meningkatkan operasi di Venezuela untuk memberikan bantuan kepada 650 ribu orang. Tetapi sebuah laporan PBB bocor ke media, pada saat yang sama memperkirakan jumlah orang yang membutuhkan mendekati tujuh juta jiwa.

Menggunakan data dari lembaga kesehatan internasional seperti Pan American Health Organization dan Badan Kesehatan Dunia (WHO), dikombinasikan dengan statistik pemerintah, laporan itu mengklaim data, sebagai berikut.

  • Kematian ibu meningkat 65 persen dan kematian bayi naik 30 persen pada 2016.
  • Lebih dari 9.300 kasus campak telah dilaporkan, dengan lebih dari 6.200 dikonfirmasi sejak 2017 peningkatan dramatis dibandingkan dengan periode antara 2008-2015, ketika hanya satu kasus dilaporkan.
  • Sejak Juli 2016, lebih dari 2.500 kasus difteri dilaporkan, dengan lebih dari 1.500 dikonfirmasi. Tidak ada yang dicatat antara 2006-15.
  • Kasus malaria yang dikonfirmasi meningkat lebih dari 10 kali lipat, dari kurang dari 36 ribu pada 2009 menjadi 414 ribu pada 2017.
  • Kasus TBC telah meningkat dari 6.000 pada 2014 menjadi 13 ribu pada 2017.
  • Pada 2018, hampir sembilan dari 10 orang Venezuela yang hidup dengan HIV dan terdaftar oleh pemerintah tidak menerima pengobatan antiretroviral.

Otoritas Venezuela juga harus memberikan staf PBB akses penuh ke data penyakit, epidemiologi, ketahanan pangan dan nutrisi nasional untuk melakukan penilaian kebutuhan yang independen dan komprehensif. "Kepemimpinan PBB perlu membunyikan peringatan, dan mengawasi rencana bantuan skala penuh untuk Venezuela yang netral, independen dan tidak memihak," kata Direktur Pusat Kesehatan Kemanusiaan Johns Hopkins, Paul Spiegel.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement