Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Status Ancaman Selandia Baru Turun ke Level Menengah

Rabu 17 Apr 2019 18:28 WIB

Rep: rossi handayani/ Red: Dwi Murdaningsih

CHRISTCHURCH. Orang-orang berkumpul di Hagley Park untuk melaksanakan March for Love sebagai penghormatan pada korban terorisme di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (23/3) waktu setempat.

CHRISTCHURCH. Orang-orang berkumpul di Hagley Park untuk melaksanakan March for Love sebagai penghormatan pada korban terorisme di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (23/3) waktu setempat.

Foto: AP Photo/Mark Baker
Sebelumnya, status ancaman keamanan di level tinggi pasca teror masjid.

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Tingkat ancaman keamanan nasional Selandia Baru telah diturunkan menjadi level menengah, Rabu (17/4). Sebelumnya tingkat keamanan dinaikkan menjadi tinggi setelah penembakan massal di Christchurch pada 15 Maret yang menewaskan 50 orang.

"Sementara tingkat ancaman telah direvisi menjadi sedang, dan tidak ada lembaga ancaman spesifik saat ini merespons, orang akan terus melihat kehadiran polisi yang jelas di acara-acara publik, termasuk pada Hari Anzac," kata Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern dalam pernyataannya, Rabu (17/4).

Sebelumnya seorang teroris penembakan masjid telah didakwa melakukan pembunuhan di dua tempat ibadah di Christchurch. Teroris asal Australia ini menghadapi 50 tuduhan pembunuhan, dan 39 percobaan tuduhan pembunuhan di pengadilan. Pembantaian itu telah mengguncang negara yang biasanya penuh dengan kedamaian. Pada saat itu dua masjid diserang oleh teroris yakni di Al Noor, dan Linwood.

Sebagian besar korban merupakan migran atau pengungsi dari negara-negara seperti Pakistan, India, Malaysia, Indonesia, Turki, Somalia, Afghanistan, dan Bangladesh. Seorang supremasi kulit putih tersebut tinggal di Dunedin, di Pulau Selatan Selandia Baru.

Di samping itu, insiden penembakan ini disiarkan langsung di Facebook selama 17 menit. Kemudian disalin, serta dibagikan di situs media sosial di internet. Facebook mengatakan pihaknya berusaha keras untuk menghapus ratusan ribu salinan tersebut.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA