Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Interpol akan Selidiki Serangan Bom Sri Lanka

Selasa 23 Apr 2019 14:21 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Kondisi Gereja St. Sebastian di Negombo, utara Kolombo, Sri Lanka yang hancur usai serangan bom saat misa Paskah, Ahad (21/4).

Kondisi Gereja St. Sebastian di Negombo, utara Kolombo, Sri Lanka yang hancur usai serangan bom saat misa Paskah, Ahad (21/4).

Foto: AP Photo/Chamila Karunarathne
Interpol mengutus tim ke Sri Lanka untuk menyelidi serangan bom.

REPUBLIKA.CO.ID, KOLOMBO – Organisasi polisi internasional, Interpol, akan berpartisipasi dalam proses penyelidikan insiden pengeboman yang menargetkan gereja dan hotel mewah di Sri Lanka. Kehadiran Interpol diharapkan dapat membantu pekerjaan otoritas lokal di negara tersebut.

Dilaporkan laman Bloomberg, Selasa (23/4), Interpol telah mengumumkan akan mengutus tim ke Sri Lanka. Tim tersebut beranggotakan spesialis dalam pemeriksaan tempat kejadian perkara, bahan peledak, antiterorisme, serta identifikasi dan analisis korban.

Baca Juga

Tim tersebut juga diharapkan dapat menyingkap apakah ada keterlibatan jaringan internasional dalam pengeboman di Sri Lanka. Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena memang telah mengumumkan akan mencari bantuan internasional untuk menyelidiki insiden pengeboman di negaranya.

“Badan-badan intelijen telah melaporkan bahwa ada organisasi internasional di balik aksi-aksi teroris lokal ini. Karena itu, telah diputuskan untuk mencari bantuan internasional untuk penyelidikan,” kata Sirisena.

Sementara, pemerintah menuduh National Thoweed Jamath sebagai kelompok yang bertanggung jawab atas aksi penyerangan pada akhir pekan lalu. Juru bicara kepolisian nasional Sri Lanka Ruwan Gunasekera mengungkapkan lebih dari 40 terduga tersangka telah ditangkap dan ditahan.

Sebelumnya, Pemerintah Sri Lanka mengaku telah menerima peringatan intelijen terkait potensi serangan terhadap gereja-gereja Katolik dan Komisi Tinggi India. Namun, peringatan tersebut diabaikan.

Menurut juru bicara Pemerintah Sri Lanka, yang juga menjabat sebagai menteri kesehatan, Rajitha Senaratne, orang-orang yang telah ditangkap kepolisian adalah mereka yang nama atau identitasnya disebutkan dalam laporan intelijen. “Beberapa orang yang disebutkan dalam laporan itu meninggal selama serangan. Kami sekarang sedang menyelidiki dukungan internasional untuk kelompok itu dan hubungan mereka yang lain,” kata dia.

Tiga gereja dan hotel mewah yang berada di tiga kota di Sri Lanka menjadi sasaran serangan bom pada Ahad pekan lalu. Serangan dilancarkan saat umat Kristen di sana sedang merayakan Paskah. Hingga kini korban tewas dilaporkan telah mencapai 310 orang. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA