Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Belasan Senjata Api Dirampok di Kantor Polisi Selandia Baru

Jumat 26 Apr 2019 20:54 WIB

Red: Nur Aini

CHRISTCHURCH. Orang-orang berkumpul di Hagley Park untuk melaksanakan March for Love sebagai penghormatan pada korban terorisme di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (23/3) waktu setempat.

CHRISTCHURCH. Orang-orang berkumpul di Hagley Park untuk melaksanakan March for Love sebagai penghormatan pada korban terorisme di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (23/3) waktu setempat.

Foto: AP Photo/Mark Baker
Senjata api yang dirampok berasal dari warga.

REPUBLIKA.CO.ID, CHRISTCHURCH -- Seorang penjahat mencuri 11 senjata api dari satu kantor polisi di Selandia Baru yang beberapa di antaranya diserahkan kepada pihak berwajib setelah penembakan massal di Christchurch.

Polisi mencari tersangka itu, yang berhasil meloloskan diri setelah diketahui oleh seorang petugas di halaman kantor di Palmerston North, kota di Pulau Utara. Kendaraannya telah ditemukan kemudian. "Sebanyak 11 senjata api yang disimpan di lemari saat ini belum dihitung," kata penjabat Komandan Distrik Tengah Inspektur Sarah Stewart dalam pernyataan mengenai perampokan pada Kamis.

Baca Juga

"Saya harus jelaskan bahwa ini bukan senjata polisi, tetapi senjata-senjata itu sedang berada di lemari untuk dipamerkan atau diserahkan buat dimusnahkan. Saya sangat cemas dengan apa yang sudah terjadi. Sama sekali ini tak dapat diterima," kata Stewart.

Para pemilik senjata di seluruh Selandia Baru menyerahkan senjata-senjata mereka kepada polisi setelah pemerintah mengesahkan undang-undang senjata api ketat yang melarang senjata api semi otomatis jenis militer dan asesorisnya. Aturan itu dibuat setelah pada saat penembakan massal terburuk terjadi di Christchurch dan merenggut nyawa 50 orang.

Hingga 30 September orang-orang harus menyerahkan senjata-senjata ke kantor-kantor polisi setempat, tetapi ribuan senjata sudah diterima.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA