Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Warga Australia Diprediksi Mayoritas akan Pilih Partai Buruh

Sabtu 18 May 2019 22:27 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Pemimpin Oposisi Australia Bill Shorten menyatakan akan membentuk National Integrity Commission jika partainya menang pemilu.

Pemimpin Oposisi Australia Bill Shorten menyatakan akan membentuk National Integrity Commission jika partainya menang pemilu.

Foto: ABC
Partai Buruh di Australia diyakini akan meraih suara mayoritas pada pemilu kali ini

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Warga Australia mulai memberikan hak suaranya dalam pemilihan umum (pemilu) tingkat federal, Sabtu (18/5). Sejumlah pihak memprediksi Partai Buruh yang enam tahun terakhir gagal memperoleh suara dominan akan memenangi pemilu.

Baca Juga

Partai Buruh mengusung isu perubahan iklim dan reformasi pajak sebagai agenda kampanye utamanya. Sementara, koalisi Liberal-Nasional konservatif yang dipimpin oleh Perdana Menteri Scott Morrison mengusung kampanye pada manajemen ekonomi. 

Hari-hari terakhir kampanye diwarnai dengan kabar kematian politikus senior Partai Buruh, sekaligus mantan perdana menteri Bob Hawke pada Kamis (16/5) lalu di usia 89 tahun. Hawke menjabat sebagai perdana menteri pada periode 1983-1991. Kematian Hawke ini tidak akan berdampak pada suara Partai Buruh dalam pemilu.

"Saya sudah merasakan tanggung jawab kepada jutaan orang untuk menang. Tapi tentu saja, saya juga ingin melakukannya untuk Bob. Saya tidak ingin mengecewakannya," ujar pemimpin Partai Buruh, Bill Shorten kepada Channel Nine

Shorten tampaknya telah memiliki kesepakatan dengan para pemilih dengan kemampuan finansial yang rendah, dan khawatir tentang lingkungan. Melalui janji kampanyenya, Partai Buruh akan memotong dua konsesi pajak yang dinikmati oleh orang-orang kaya, dan gas rumah kaca. 

Sebuah jajak pendapat terakhir yang dilakukan oleh Newspoll untuk The Weekend Australia pada Jumat (17/5) lalu, menunjukkan Partai Buruh memimpin perolehan suara atas koalisi Nasional-Liberal sebesar 51,5 persen berbanding 48,5 persen. Jajak pendapat menunjukkan bahwa Morrison telah mempersempit keunggulan Partai Buruh selama kampanye.

Namun, di sisi lain masih banyak pendukung Partai Liberal yang tak menyukainya karena penggulingan terhadap Malcolm Turnbul pada Agustus 2018 lalu. Turnbull adalah perdana menteri kedua yang digulingkan saat Partai Liberal berkuasa, di tengah perpecahan internal mengenai kebijakan iklim dan energi.

Jajak pendapat menunjukkan sebagian besar warga Australia mendukung tindakan yang lebih kuat untuk mengatasi perubahan iklim. Sedangkan koalisi Morrison sangat mendukung industri batubara. 

Morrison mengatakan, Australia akan memenuhi komitmennya di bawah Kesepakatan Paris untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar antara 26 persen hingga 28 persen. Tetapi, dia mengatakan target pengurangan emisi gas rumah kaca yang ambisius akan merusak perekonomian. Di lain pihak, Shorten mengatakan, jika terpilih maka pihaknya berjanji akan mengurangi emisi karbon sebesar 45 persen pada 2030, dan mencapai emisi nol persen di 2050. 

Sekitar 16,5 juta warga Australia terdaftar untuk memberikan suara pada Sabtu, sedangkan lebih dri 4,7 juta telah memberikan suara dalam pemilihan awal pada Jumat lalu. Perbedaan waktu dua jam antara pantai timur dan barat, menunjukkan bahwa pusat pemilihan di Australia Barat masih akan terbuka karena penghitungan awal mulai dilakukan di pantai timur yang padat penduduk. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA