Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Fase Akhir Pemilu India, Narendra Modi Diprediksi Menang

Senin 20 May 2019 03:16 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Bayu Hermawan

Narendra Modi.

Narendra Modi.

Foto: Reuters
Narendra Modi diprediksi kembali memenangkan kembali pemilu di India

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI - Perdana Menteri India Narendra Modi diprediksi akan kembali berkuasa berdasarkan hasil exit polls, Ahad (19/5). Para pemilih di 59 daerah pemilihan, menggunakan hak pilihnya pada Ahad yang menandakan pengakhiran pemilihan sebanyak tujuh jenjang yang telah dilalui di India.

Sekitar 900 juta orang India memenuhi syarat untuk memilih. Empat Exit Polls dari lembaga survey India dirilis setengah jam setelah pemungutan suara berkahir. Hasilnya tiga dari empat lembaga menunjukkan kemenangan dari partai nasionalis Hindu, Bharatiya Janata Party (BJP) yang Modi ada di dalamnya.

Exit Polls yang disurvei India Today Axis menunjukkan, Aliansi Demokratik Nasional (NDA) Modi memenangkan dengan 339-365 kursi di majelis rendah yang beranggotakan 545 anggota parlemen dengan aliansi oposisi yang dipimpin partai Kongres di 77 hingga 108.

Berdasarkan peraturan, untuk memerintah, partai harus memenangkan 272 kursi. Seperti tercatat, bahwa Aliansi Modi pada 2014 memenangkan 336 kursi. Survei Exit Polls dari Today's Chanakya mencatat aliansi Modi mendapatkan sekitar 350 kursi. Namun, Exit Polls dari Neta Newsx mencatat Aliansi Modi jatuh dengan hanya mendapat 30 kursi.

Penghitungan suara total nantinya akan dihitung melalui komputer yang akan dimulai Kamis (23/5) mendatang, dan diperkirakan hasil akhirnya keluar pada siang hari. Dengan tiga dari empat hitung cepat menunjukkan mayoritas yang jelas untuk aliansi Modi.

Sehingga pasar ekuitas India diperkirakan akan naik tajam pada Senin, sementara rupee India juga cenderung menguat terhadap dolar AS. Kemenangan ini menunjukkan Modi dapat melakukan reformasi yang diharapkan para investor untuk menjadikan India tempat yang lebih mudah untuk melakukan bisnis.

"Saya mengharapkan reaksi positif dari pasar pada rupee dan ekuitas," kata kepala valas dan suku bunga di perusahaan pialang India Edelweiss Securities, Sajal Gupta.

"Indeks ekuitas harus memiliki kemungkinan akan menyatu pada 250-300 poin. Rupee India dapat menguji level 69 terhadap dolar AS sebelum mundur," kata Gupta.

Kendati demikian, kemenangan Modi menimbulkan kekhawatiran tentang kelompok garis keras Hindu yang akan lebih berani untuk mengejar program-program partisannya. Program tersebut di antaranya, menghukum umat Islam atas pembantaian sapi yang dianggap suci oleh umat Hindu, dan menulis ulang buku teks sekolah untuk mengurangi sejarah Muslim India, dan menyerang kaum liberal.

Para kritikus pun mengatakan, Modi menang karena upayanya memicu ketakutan di kalangan mayoritas Hindu soal potensi bahaya yang ditimbulkan oleh Muslim dan Pakistan di negara itu. Ia juga mempromosikan India yang lebih dulu Hindu.

Namun, para pendukung Modi mengatakan, bahwa Modi dan sekutunya hanya mengembalikan agama Hindu ke tempat selayaknya di masyarakat India. Sementara Muslim membentuk 14 persen dari 1,3 miliar populasi India.

"Kerumunan masif dan tanggapan di setiap rapat umum Perdana Menteri Modi adalah indikator yang jelas tentang persetujuan mereka untuk kepemimpinannya, kinerja lima tahun terakhir dan visi untuk masa depan," ujar juru BJP Nalin Kohli.

Seorang warga India Dilip Agrawal (46 tahun) mengaku memilih Modi, meski ada kesulitan yang dihadapai oleh para petani India. Ia memilih Modi sebab telah melakukan beberapa hal termasuk menjaga keamanan nasional.

"Dia melakukan banyak hal untuk negara kita, keamanan nasional kita. Tentu saja petani menginginkan tingkat yang lebih baik daripada yang mereka dapatkan, itu wajar saja. Hanya pemimpin yang kuat yang dapat memenuhi aspirasi kami, dan Modi adalah pemimpin itu," kata Agrawal.

Sementara Partai Kongres yang dipimpin Rahul Gandhi masih menunggu hasil akhir. Juru bicara  Partai Kongres Sanjay Jha menolak prediksi Exit Polls dan masih akan menunuggu 23 Mei.

"Banyak lembaga survei, jika tidak semua lembaga survei, melakukan kesalahan. Suuasana yang terpolarisasi dan ketakutan membuat pemilih tidak memberi tahu petugas survei tentang kesetiaan mereka yang sebenarnya," ujarnya.

Kepala menteri nehara bagian Bengal Barat yang juga sebagai penentang Modi, Mamata Banerjee mengatakan, bahwa pertarungan belum berkahir. "Saya tidak percaya keluar dari gosip jajak pendapat. Saya menghimbau semua partai oposisi untuk bersatu, kuat dan berani. Kami akan bertarung bersama ini," kata Banerjee.

Pemilihan umum di India telah dimulai sejak 11 April, dan berakhir pada Ahad (19/5) waktu setempat. Pemilu India menandakan kegiatan demokrasi terbesar di dunia. Meskipun partai Modi siap untuk kehilangan kursi di Uttar Pradesh utara, kembalinya partai ke kekuasaan akan berada di belakang pertunjukan yang kuat di daerah jantung utara lainnya dan dua provinsi timur, berdasarkan jejak pendapat.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA