Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Cina Ingin Lanjutkan Negosiasi Perdagangan dengan AS

Rabu 22 May 2019 14:07 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Bendera Cina-Amerika

Bendera Cina-Amerika

Foto: washingtonote
Negosiasi dagang antara AS dan Cina memburuk sejak awal Mei.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Duta Besar Cina untuk Amerika Serikat (AS), Cui Tiankai mengatakan, Beijing siap untuk melanjutkan pembicaraan perdagangan dengan Washington. Negosiasi dagang antara AS dan Cina memburuk sejak awal Mei, putaran terakhir dialog yang diadakan pada 10 Mei lalu menemui jalan buntu. 

"Cina tetap siap untuk melanjutkan pembicaraan dengan Amerika untuk mencapai kesimpulan. Pintu kami masih terbuka," kata Cui kepada Fox News Channel, Rabu (22/5).

Baca Juga

Cui menuding pihak AS karena kerap berubah pikiran dalam kesepakatan sementara, untuk mengakhiri perang dagang. Cui mengatakan, negosiator AS tiba-tiba mundur dari beberapa kesepakatan yang telah disetujui selama setahun terakhir. Hal ini yang menyebabkan, negosiasi dagang antara kedua negara selalu menemui jalan buntu. 

"Sangat jelas bahwa pihak AS yang lebih dari satu kali berubah pikiran dan melanggar kesepakatan tentatif yang telah dicapai. Jadi kami masih berkomitmen untuk melakukan apa pun yang kami setujui untuk dilakukan, tetapi pihak AS lah yang sering berubah pikiran," ujar Cui. 

Pada Juni 2018, Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross mengadakan negosiasi dengan Wakil Perdana Menteri Cina Liu He atas tawaran Cina untuk meningkatkan pembelian barang-barang AS sekitar 70 miliar dolar AS. Tetapi, Presiden AS Donald Trump tidak menerima tawaran itu, dan memilih untuk mengenakan tarif pada barang-barang Cina. 

Perusahaan AS mulai menghadapi pembalasan di Cina untuk perang dagang. Kamar Dagang Amerika-Cina mengatakan, anggota mereka menghadapi peningkatan hambatan seperti inspeksi pemerintah, bea cukai yang lebih lambat dan persetujuan yang lebih lambat untuk perizinan. Berdasarkan survei, sekitar 40,7 persen responden mengaku telah merelokasi pabriknya dari Cina. Sementara 250 responden mengatakan, dampak tarif telah merusak daya saing mereka. 

Untuk mengatasinya, sekitar sepertiga perusahaan mengaku memfokuskan produksi pabrik mereka di Cina untuk kebutuhan domestik, dan tidak berorientasi ekspor. Sementara sepertiga lainnya menunda dan membatalkan keputusan investasi.

Perang dagang antara AS dan Cina semakin intensif sejak Washington memasukkan perusahaan peralatan telekomunikasi Cina, Huawei Technologies Co Ltd ke dalam daftar hitam. Hal ini berpotensi mengacaukan rantai pasokan teknologi dan investor. New York Times melaporkan, perusahaan teknologi besar Cina lainnya yakni Hikvision Digital Technology Co Ltd, juga menghadapi pembatasan untuk membeli teknologi AS.

Cui mengatakan, pembatasan akses Huawei di AS adalah tanpa dasar dan bukti. Hal itu justru dapat merusak fungsi normal pasar.

"Semua orang tahu Huawei adalah perusahaan swasta. Itu hanya perusahaan swasta Cina sepertu pada umumnya. Jadi semua tindakan yang diambil terhadap Huawei bermotivasi politik," ujar Cui. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA