Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Jepang akan Bantu Buka Dialog AS dan Iran

Senin 27 May 2019 14:48 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Shnzo Abe di Istana Akasaka, Tokyo, Senin (27/5).

Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Shnzo Abe di Istana Akasaka, Tokyo, Senin (27/5).

Foto: AP Photo/Eugene Hoshiko, Pool
Jepang akan memanfaatkan hubungan baik dengan Iran untuk membantu AS.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, Jepang sangat terbuka untuk membantu membuka dialog dengan Iran. Jepang akan memanfaatkan hubungan baiknya dengan Iran untuk membantu AS mengurangi ketegangan di Timur Tengah. 

"Saya tahu bahwa perdana menteri dan Jepang memiliki hubungan yang sangat baik dengan Iran sehingga kita akan melihat apa yang terjadi," kata Trump saat bertemu dengan Abe di Tokyo, Senin (27/5).

Baca Juga

"Perdana menteri sudah berbicara kepada saya tentang itu dan saya yakin bahwa Iran ingin berbicara. Dan jika mereka ingin berbicara, kami juga ingin berbicara. Kita akan melihat apa yang terjadi, tidak ada yang ingin melihat hal-hal buruk terjadi, terutama saya," ujar Trump menambahkan. 

Trump dan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe melakukan pembicaraan setelah presiden AS menjadi pemimpin dunia pertama yang bertemu dengan kaisar baru Jepang, Naruhito. Ketika awal bertemu, Trump dan Kaisar Naruhito bersama istrinya, Permaisuri Masako tampak saling berjabat tangan. 

Trump telah menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran dan melumpuhkan perekonomian negara tersebut. Akhir pekan lalu, AS mengumumkan akan mengerahkan 1.500 tentara tambahan ke kawasan Timur Tengah untuk mengantisipasi ketegangan dan ancaman dari Iran. Sebelumnya, AS telah mengerahkan kapal induk dan kapal penghancur B-52 ke Teluk Persia sebagai respons atas ancaman Iran terhadap kepentingan AS di kawasan tersebut. 

Kunjungan Trump selama empat hari ke Jepang menjadi pusat perhatian bagi warga setempat, terutama dalam upacara penyambutan yang megah di luar Istana Kekaisaran Jepang. Tiba di Kekaisaran Jepang, Trump disambut dengan karpet merah. 

Selain itu, sejumlah anak-anak sekolah juga tampak berbaris sambil mengibarkan bendera AS dan Jepang. Cuaca Jepang yang sedang panas, membuat beberapa anak-anak sekolah itu terlihat duduk sambil memegang cangkir air dan kompres dingin di dahi mereka. Trump mengatakan, pertemuannya dengan Kaisar Naruhito adalah momen yang sangat penting. Apalagi, pergantian kekaisaran tersebut terjadi dalam dua abad. 

"Ini sangat penting, tidak hanya di Jepang tapi di seluruh dunia juga membicarakannya," kata Trump. 

Di samping bertemu dengan Kaisar Naruhito, Trump dan Abe juga membicarakan tentang nuklir Korea Utara (Korut). Trump memastikan bahwa, pembahasan nuklir antara AS dengan Korut akan diselesaikan dengan baik. 

Trump menyempatkan diri bertemu dengan kerabat warga negara Jepang yang diculik oleh Korut pada 1970an dan 1980an. Sebelumnya, Trump juga pernah bertemu dengan mereka pada 2017. Dalam pertemuan tersebut, Trump memastikan bahwa masalah penculikan ini telah menjadi prioritas bagi Abe. 

"Dalam setiap pertemuan, kami selalu membahas tentang korban-korban penculikan tersebut," ujar Trump. 

Pada 2002, Korut mengakui telah menculik 13 warga Jepang. Dari jumlah tersebut, lima di antaranya telah dikembalikan ke Jepang. Sementara delapan orang sisanya telah meninggal dunia. Namun, keluarga mereka tidak percaya dan mendesak Abe untuk meminta bantuan kepada Trump untuk mengusut para korban yang diculik tersebut. 

Awal bulan ini, Korut menembakkan rudal jarak pendek yang meningkatkan kekhawatiran terhadap negara sekutu AS. Penasihat Keamanan Nasional, John Bolton mengatakan, tindakan Korut tersebut telah melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

Kantor Berita Resmi Pyongyang menyatakan, Korut akan menggunakan haknya untuk membela diri terhadap peluncuran rudal jarak pendek tersebut. Banyak pihak menilai, penembakan rudal jarak pendek itu sebagai upaya Korut untuk menekan Washington agar melonggarkan sanksi. 

"Kita akan melihat apa yang terjadi. Ada rasa hormat yang dibangun antara AS dan Korut. Kami akan melihat apa yang terjadi," kata Trump.

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA