Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Desa di India Kosong Ditinggal Penghuninya karena Kekeringan

Kamis 13 Jun 2019 04:40 WIB

Rep: Febryan A./ Red: Ani Nursalikah

Sebuah sumur yang mengering diisi air dari truk di distrik Thane di negara bagian Maharashtra, India. India dilanda kekeringan.

Sebuah sumur yang mengering diisi air dari truk di distrik Thane di negara bagian Maharashtra, India. India dilanda kekeringan.

Foto: Reuters/Francis Mascarenhas
Kekeringan menghancurkan mata pencaharian desa yang bergantung pada pertanian.

REPUBLIKA.CO.ID, DELHI -- Kekeringan parah melanda negara bagian Maharashtra, India sejak sepekan terakhir. Akibatnya, ribuan orang meninggalkan desa mereka untuk mencari sumber air.

India memang dalam sepekan terakhir dilanda cuaca ekstrem. Tercatat, suhu di ibu kota India, Delhi, Senin (10/6), mencapai suhu tertinggi dalam bulan ini, yakni 48 derajat Celsius. Bahkan di Rajastan, suhu mencapai 50,8 derajat Celsius dan membuat kota ini menjadi wilayah terpanas di dunia.

Di Maharashtra, banyak desa telah mengalami kekeringan akibat suhu yang mencapai 45 derajat Celsius. Sekitar 90 persen warga telah meninggalkan desa-desa itu. Para warga pergi untuk mencari air di wilayah lain dengan meninggalkan para orang tua dan yang sedang sakit di desa.

Seperti halnya di Desa Hatkarwadi. Disana hanya tersisa 15 keluarga dari 2.000 keluarga yang ada pada masa normal. Disana sumur-sumur warga telah mengalami kekeringan total.

Totalnya sekitar 72 persen distrik di Maharashtra dipastikan mengalami kekeringan. Begitupun negara bagian tetangganya, Karnataka yang mengalami kekeringan di 80 persen distrik. Akibatnya, sekitar 6.000 petani harus pasrah mendapati sawah dan ladang mereka kering dan bahkan gagal panen.

Dua negara bagian ini pun juga akhirnya kerap terlibat konflik. Penyebabnya, perebutan air yang dipasok sebanyak 6.000 tanker setiap harinya.

Kekurangan air akut ini benar-benar telah menghancurkan mata pencaharian desa yang bergantung pada sektor pertanian. Tanaman utama akhirnya layu dan mati, seperti jagung, kedelai, kapas, jeruk nipis, kacang-kacangan dan kacang tanah. Begitupun hewan ternak warga yang kekurangan asupan dan tentu juga air.

Sebagian warga berupaya menggali air dari wilayah danau yang telah mengering. Tapi, air berlumpur itu tak layak dikonsumsi warga. Bahkan sapi ternak pun enggan meminum air tersebut.

"Akibat kekeringan ini, setidaknya selama 1,5 bulan terakhir, terjadi peningkatan 50 persen jumlah pasien yang menderita diare dan berbagai penyakit lain” kata seorang dokter di rumah sakit Beed Civil, Sandeep Deshmukh, seperti dikutip The Guardian, Rabu (12/6).

Kekeringan yang melanda India ini, menurut pejabat setempat, lebih parah dari bencana kelaparan pada 1972 yang membuat 25 juta orang meninggalkan negara itu. Para ilmuwan memperkirakan suhu ekstrem ini akan terus meningkat karena pemanasan global dan pertumbuhan populasi. Para ilmuwan juga memastikan kekeringan akan menjadi lebih parah.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA