Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Selamat Jalan Muhammad Mursi

Rabu 19 Jun 2019 00:11 WIB

Red: Joko Sadewo

Teguh Firmansyah

Teguh Firmansyah

Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Sejarah mencatat Mursi adalah presiden pertama Mesir yang dipilih secara demokratis.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Teguh Firmansyah*

Pada Maret tahun lalu, laporan dari Detention Review Panel (DRP) Inggris menyebut mantan Presiden Mesir Muhammad Mursi terancam akan menghadapi kematian dini.

Hal tersebut dikarenakan buruknya perawatan kesehatan yang diperoleh Mursi selama ditahanan. Ia tidak memperoleh akses memadai untuk mengobati penyakit diabetes dan liver yang dideritanya. Mursi harus 'menelannya' sendiri bahkan ketika menjalani setiap persidangan. 

Kondisi itu kontras dengan Husni Mubarak yang bolak-balik mendapatkan perawatan di rumah sakit. Mubarak yang digulingkan pada Musim Semi Arab 2011 lalu dizinkan untuk tinggal di rumah sakit militer selama persidangan. Mubarak bahkan beberapa kali tampak dengan kaca mata hitam dan kursi rodanya.

Sampai akhirnya prediksi itu terbukti, Muhammad Mursi, meninggal dunia pada Senin (17/6). Ia wafat tidak di rumah sakit, tidak juga di depan anggota keluarganya.  Ia meninggal di persidangan, rutinitas yang dijalaninya selama ini. Penjara-Persidangan-Penjara, bersama hakim, jaksa, polisi serta tahanan lainnya.

Mursi merupakah salah satu tokoh sentral gerakan  Ikhwanul Muslimin Mesir. Ia berperan penting dalam kejatuhan Mubarak. Pada 2012, ia menjadi presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokrati lewat jalur pemilu.

Mursi berhasil mengalahkan pesaingnya Jenderal Ahmed Shafiq dalam babak utama dengan perolehan 52 persen. Namun terpilihnya Mursi tak menyelesaikan pertikaian di internal Mesir. 

Masalah demi masalah muncul. Dari mulai gagalnya pembentukan konstitusi, pembubaran parlemen, hingga pertentangan dengan kelompok oposisi dan peradilan. Proses peralihan berjalan dengan begitu kacau karena tidak ada kesepakatan di berbagai pihak berkepentingan.

Kondisi tersebut sangat berbeda jauh dibanding Indonesia yang meski sempat terseok-seok pasca-reformasi 1998, tapi berhasil melewati proses transisi perlahan dengan mulus. Pemimpin Indonesia memilih kata konsensus.

Mursi pun didepak dari kursi keperesidenan oleh menterinya sendiri. Ia digulingkan oleh Abdul Fattah al-Sisi, sosok petinggi militer yang dipercaya Mursi untuk menduduki kursi menteri pertahanan.

Sisi menggulingkan Mursi tepat pada 3 Juli 2013 menyusul aksi protes yang tak berkesudahan antara pendukung dan kontra-Mursi. Mesir kembali di tangan rezim militer.

Sisi pulalah yang kemudian menjebloskan Mursi ke penjara atas beragam tuduhan dari mulai kasus terorisme hingga pengkhianatan. Sisi juga yang menangkapi satu persatu anggota Ikhwanul Muslimin. Vonis demi vonis dijatuhkan, dari penjara, seumur hidup hingga hukuman mati.

Namun Mursi tak pernah mengakui Sisi sebagai presiden. Ia menganggap bahwa dirinyalah sebagai presiden sah Mesir berdasarkan pemilihan rakyat.  "Saya presiden dan saya belum menanggalkan jabatan ini," kata Mursi dalam sebuah persidangan pada 2015 lalu.

Sikap teguh itulah yang dipegangnya hingga meninggal. Karena itu, kepergian Mursi menimbulkan beragam spekulasi. Para anggota Ikhwan menyebut, Mursi dibunuh secara 'terencana'. Mursi dibiarkan dalam kondisi sakit hingga akhirnya wafat secara perlahan.

Bahkan, pemakaman Mursi pun digelar di luar kebiasaaan adat Mesir. Ia dimakamkan pada pagi hari setelah sebelumnya dishalatkan di Masjid Penjara Tora di bawah pengamanan ketat. Padahal, pada umumnya, pemakaman di Mesir digelar pada siang hari, apakah itu waktu setelah zuhur atau ashar.

Keinginan keluarga untuk memakamkan Mursi di kampung halaman di Provinsi Sharqia pun tak dizinkan. Mursi dimakamkan di pemakaman di Kota Nasr. Hanya anggota keluarga dekat saja yang boleh menemani proses pemakaman. Petugas keamanan melarang wartawan untuk mendekat dan mengambil foto.

Kelompok hak asasi manusia internasional dari mulai HRW dan Amnesty menyalahkan pemerintahan Mesir yang dinilai tak memberikan hak dasar kepada Mursi. Presiden Erdogan menyebut Sisi seorang tirani. Sejatinya, sekeras apapun Mursi 'melawan' Sisi, dia tetap seorang tahanan, seorang manusia yang hak-haknya harus dilindungi oleh hukum. Hak-hak itu pun dilindungi hukum internasional. 

Jika Mubarak saja yang telah berkuasa selama tiga dekade diberikan perlakuan baik, mengapa Mursi tidak?  Sebegitu takutkan Sisi terhadap sosok Mursi? 

Tapi bagaimanapun nama Mursi akan tercatat dalam sejarah Mesir. Ia adalah presiden pertama Mesir yang dipilih secara demokratis, terlepas dari beragam kekurangannya memimpin. Selamat Jalan Mursi !!

*) Penulis adalah redaktur republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA