Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

ICW Ingatkan Pansel Serius Pelajari Rekam Jejak Capim KPK

Senin 24 Jun 2019 00:30 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Bayu Hermawan

Logo KPK

Logo KPK

Foto: Republika/Iman Firmansyah
ICW Ingatkan Pansel KPK tak Pilih Capim yang Berpotensi Lemahkan KPK

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia Corruption Watch (ICW) mengingatkan kepada panitia seleksi (pansel) untuk lebih selektif dalam memilih calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). ICW menegaskan, jangan sampai pansel memilih orang-orang yang bisa melemahkan KPK.

Baca Juga

"Pansel harus benar-benar selektif dalam memilih pimpinan KPK, karena ini yang akan menentukan apakah pimpinan KPK akan memperkuat lembaga anti rasuah itu atau justru malah memperlemah posisi KPK?," kata peneliti ICW Kurnia Ramadhan dalam siaran pers kepada Republika.co.id, Ahad (23/6).

Terkait kandidat yang berasal dari institusi penegak hukum, baik Polri maupun Kejaksaan Agung, Kurnia menegaskan, tidak ada kewajiban dalam peraturan perundang-undangan bahwa Pimpinan KPK harus berasal dari instansi penegak hukum tertentu. Ia melanjutkan, yang terpenting pansel benar-benar mempelajari rekam jejak kandidat-kandidat tersebut.

"Ini rasanya selalu mengemuka tiap kali komisioner lembaga anti rasuah itu akan berganti. Ini harus direspon dengan serius, karena bagaimanapun rekam jejak para penegak hukum juga tidak terlalu baik di mata publik dalam konteks pemberantasan korupsi," katanya.

Selain itu, menurutnya Kapolri dan Jaksa Agung juga harus benar-benar ikut dalam menyeleksi siapa anggotanya yang dikirim untuk ikut dalam seleksi capim KPK. Menurutnya, kualitas lebih penting daripada kuantitas.

Atas dasar itu kata Kurnia, ICW meminta agar pansel KPK dapat lebih selektif lagi dalam menyeleksi capim KPK yang berasal dari unsur penegak hukum. Bisa jadi solusi terbaik untuk menjaga kepercayaan publik terhadap KPK, menurutnya adalah menolak keberadaan unsur penegak hukum tertentu menduduki jabatan tertinggi di KPK.

"Sederhananya, bagaimana publik akan percaya jika kelak ia menjadi Pimpinan KPK akan serius memberantas korupsi ketika salah satu pelaku berasal dari lembaganya terdahulu?," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA