Jumat 09 Mar 2018 14:20 WIB

Pangeran Saudi Bertemu Pemimpin Politik dan Agama Inggris

Putra Mahkota berkomitmen kuat mengenalkan perbedaan dan dialog antarkeyakinan.

Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Rabu (7/3).
Foto: Reuters/Simon Dawson
Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Rabu (7/3).

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Dalam jadwal yang padat, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bertemu pemimpin politik dan agama pada kunjungan penting hari kedua di Inggris, Kamis (8/3).

Melanjutkan hari pertama, saat ia makan siang bersama Ratu Elizabeth II dan bertemu Perdana Menteri Inggris Theresa May, putra mahkota juga bertemu anggota parlemen dan menteri saat ketua bisnis dari kedua negara bertemu di ibu kota. Justin Welby, uskup besar dari komuni Anglikan yang berjumlah jutaan di seluruh dunia, menerima putra mahkota di Istana Lambeth di pusat London, di mana kedua figur saling berbincang selama satu jam.

"Putra Mahkota membuat komitmen kuat mengenalkan tradisi perbedaan yang tumbuh dengan maju, serta dialog antarkeyakinan dengan kerajaan dan seterusnya," tulis sebuah pernyataan dari Istana Lambeth, dikutip dari Arab News.

Ia juga mengundang uskup besar untuk mengunjungi Arab Saudi, ujar dua petinggi dari Kedutaan Arab Saudi di Inggris dan Kementerian Luar Negeri. Awal pekan ini, pangeran Mohammed bertemu paus koptik Tawadros Ii di gereja terbesar di Kairo dan mengundang warga kristiani di negara tersebut untuk berkunjung ke Arab Saudi.

Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan ingin mengembalikan Arab Saudi pada Islam moderat yang terbuka pada dunia dan toleran pada semua keyakinan. Putra mahkota Mohammed dan uskup besar menyaksikan sebuah tulisan awal dari Kristiani, Muslim, dan Yahudi, termasuk bagian Alquran yang ditemukan di perpustakaan Universitas Birmingham pada tahun 2015, yang diperkirakan menjadi salah satu yang tertua di dunia.

"Uskup besar berbagi perhatiannya tentang tempat beribadah Kristiani yang terbatas di Arab Saudi, dan menekankan pentingnya bagi para pemimpin agama untuk mendukung kebebasan beragama atau berkeyakinan, berdasar pengalaman di Inggris, tulis sebuah pernyataan.

Welby juga menyerukan keprihatinannya pada situasi kemanusiaan di Yaman, di mana kelompok milisi Houthi menyerang pemerintahan resmi pada tahun 2014 yang menyebabkan konflik. Arab Saudi memimpin koalisi guna mendukung pasukan yang loyal terhadap presiden, melawan militan dan sekutunya.

Pada Rabu malam, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa Iran memainkan peran yang merusak dan berbahaya di Yaman serta mengacaukan kestabilan kawasan. Berbicara dalam konferensi pers dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir, ia mengatakan bahwa sudah ada perjanjian Inggris-Saudi untuk mengendalikan pelayaran pada rencana pembukaan pelabuhan di Yaman.

Al-Jubeir mengatakan negaranya sepakat dengan Inggris untuk menggentarkan Iran dan menghentikan dukungannya kepada kelompok teroris. "Kami mendukung proses transisi dan dialog politik di Yaman. Perang di sana membebani kita," katanya menambahkan.

Ia menuding Houti telah menolak segala upaya untuk mencapai solusi politik di Yaman. Menteri Luar Negeri Arab Saudi menegaskan bahwa negaranya tetap melanjutkan bantuan kemanusiaan kepada Yaman usai perang.

Kemarin, putra mahkota juga bertemu Menteri Keuangan Philip Hammond dan mendiskusikan cara-cara untuk meningkatkan kerja sama ekonomi kedua negara sebagaimana meningkatnya kemungkinan peluang dari implementasi "Vision 2030" untuk menggeser ekonomi Arab Saudi dari minyak. Ia juga berbicara dengan anggota parlemen dari semua partai dan kepala komite parlemen untk angkatan bersenjata, hubungan luar negeri, dan intelijen.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement