Selasa 24 Jul 2018 12:45 WIB

Dikritik Trump, Kerja Sama Pipa Gas Jerman-Rusia Jalan Terus

Nord Stream 2 akan menghubungkan Rusia dan Jerman di sepanjang bawah Laut Baltik.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah
Proyek pipa gas Rusia-Jerman, Nord Stream.
Foto: Reuters
Proyek pipa gas Rusia-Jerman, Nord Stream.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Pemerintah Jerman menyatakan akan melanjutkan kerja sama proyek pipa gas Nord Stream 2 dengan Rusia. Proyek ini disorot dan dikritik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ketika menghadiri KTT Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Brussels, Belgia, dua pekan lalu.

"Posisi kami belum berubah, sejauh menyangkut Nord Stream 2, ini mengacu pada proyek komersial. Namun kami selalu mengatakan pada saat yang sama bahwa peran yang akan dimainkan Ukraina sebagai negara transit untuk gas harus diklarifikasi," kata juru bicara Kabinet Menteri Jerman Ulrike Demmer pada Senin (23/7), dikutip laman kantor berita Rusia TASS.

Nord Stream 2 merupakan proyek perluasan pipa gas utama Nord Stream. Pipa gas tersebut akan menghubungkan Rusia dan Jerman di sepanjang bawah Laut Baltik. Pipa Nord Stream 2 melewati negara-negara transit seperti Ukraina, Belarus, Polandia, serta negara Eropa dan Baltik Timur lainnya.

Secara umum, jalur pipa Nord Stream 2 mencerminkan rute utama Nord Stream dan akan melintasi zona ekonomi eksklusif serta perairan wilayah lima negara, yakni Rusia, Finlandia, Swedia, Denmark, dan Jerman. Panjang pipa Nord Stream 2 diperkirakan akan mencapai lebih dari 1.200 kilometer.

Kerja sama Jerman dengan Rusia dalam proyek Nord Stream 2 dikritik Trump ketika menghadiri KTT NATO. Menurut Trump, proyek tersebut akan membuat Jerman dikontrol Rusia. Sebab lebih dari 60 persen kebutuhan energi Berlin akan dipasok Rusia.

"Saya harus mengatakan, saya pikir itu sangat menyedihkan ketika Jerman membuat kesepakatan minyak dan gas besar-besaran dengan Rusia, di mana kita seharusnya berhati-hati terhadap Rusia," kata Trump kala itu.

Namun Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas segera mengecam kritik yang dilayangkan Trump. Maas menegaskan Jerman tidak pernah dikontrol atau ditawan oleh negara mana pun.

"Kami bukan tawanan, baik dari Rusia maupun AS. Kami adalah salah satu penjamin dunia yang bebas dan akan tetap seperti itu," ujar Maas melalui akun Twitter pribadinya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement