Jumat, 15 Rajab 1440 / 22 Maret 2019

Jumat, 15 Rajab 1440 / 22 Maret 2019

1.500 Pengungsi Tewas di Laut Tengah Sepanjang 2018

Sabtu 28 Jul 2018 09:00 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Sebuah kapal yang dipenuhi oleh pengungsi Suriah tiba di perairan Syracuse, Sisilia, Italia.

Sebuah kapal yang dipenuhi oleh pengungsi Suriah tiba di perairan Syracuse, Sisilia, Italia.

Foto: EPA/Valentino Cilmi
Dari 100 orang pengungsi Libya, lima persen di antaranya tewas saat menuju Italia.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Sedikit-dikitnya 1.500 pengungsi tewas di Laut Tengah sepanjang 2018. Jalur Libya menuju Italia menjadi yang paling mematikan, kata Organisasi Migrasi Internasional (IOM) pada Jumat.

Tahun ini adalah untuk kelima kali secara berturut-turut Laut Tengah memakan korban ribuan orang. Spanyol, yang menggantikan Italia sebagai tujuan utama pengungsi, menerima hampir 21.000 orang pada tahun ini atau lebih banyak dari tahun sebelumnya, menurut IOM.

Secara keseluruhan, sekitar 55.000 pengungsi mendarat di tepi laut Eropa sepanjang tahun ini. Angkanya turun jauh dari masa sama tahun sebelumnya yang mencapai 111.753 orang.

Italia --yang pemerintahan barunya menutup pelabuhan bagi kapal penyelamat pengungsi-- menerima sekitar 18.130 pendatang melalui jalur laut dari Libya sepanjang tahun ini. Pendatang lain tiba di Yunani, Malta, dan Siprus.

"Meski jumlah pendatang ke Italia sangat rendah, tingkat kematian di sepanjang jalur laut menuju negara tersebut telah mencapai titik tertinggi," kata juru bicara IOM, Joel Millman, dalam jumpa pers.

photo

Anggota tim pertolongan dari Spanyol Daniel Calvelo menggendong bayi pengungsi berumur 4 hari dalam perasi SAR yang dilakukan LSM Spanyol di Laut Mediterania 22 mil laut utara Kota Sabratha, Libya.

IOM dan badan pengungsi PBB UNHCR membenarkan kabar bahwa mereka akan menggelar pertemuan di Jenewa pada Senin untuk merundingkan pembentukan "titik pendaratan bersama". Di tempat tersebut nantinya para migran ditampung untuk sementara waktu sebelum permohonan suaka mereka diproses.

Langkah itu ditempuh demi mempermudah upaya penyelamatan pendatang. Mereka menolak mengungkap negara mana yang akan hadir dalam pertemuan tertutup itu.

Pada Selasa, Komisi Uni Eropa mengusulkan "titik pendaratan regional" yang kemungkinan besar akan berada di luar Uni Eropa. Meski demikian, rencana itu masih belum jelas.

Tidak disebutkan negara mana bersedia menjadi titik pendaratan. Sejumlah diplomat Uni Eropa mengatakan bahwa negara di kawasan Afrika Utara bisa menampung para migran untuk sementara waktu.

Sementara itu, untuk jalur pengungsi, IOM mengatakan bahwa jalur Libya menuju Italia adalah yang paling mematikan dengan prosentase lima persen atau lima orang tewas untuk setiap 100 pendatang, sementara tingkat kematian jalur Spanyol adalah satu berbanding 70.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA