Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Industri Jerman Minta Uni Eropa Perketat Aturan untuk Cina

Jumat 11 Jan 2019 03:17 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolanda

Suasana Kota Frankfurt, Jerman.

Suasana Kota Frankfurt, Jerman.

Foto: AP
BDI meminta Uni Eropa untuk memperketat peraturan subsidi.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Federasi Industri Jerman (BDI), asosiasi yang paling berpengaruh di Jerman meminta Uni Eropa untuk mengadopsi kebijakan yang lebih ketat lagi terhadap Cina. BDI juga meminta perusahaan-perusahaan Jerman dan Eropa untuk mengurangi ketergantungan mereka kepada pasar Cina karena khawatir dengan dumpling dan kebijakan ambil alih teknologi yang dilakukan Negeri Tirai Bambu. 

Nada keras dari BDI ini menunjukan pembuat kebijakan dan pemimpin bisnis di Eropa mulai khawatir dengan Cina sebagai kompetitor mereka. Hal ini juga memperlihatkan kekhawatiran Eropa terhadap model bisnis yang diterapkan oleh Cina.

Dalam sebuah pemaparan makalah pada hari Kamis (10/1) BDI menekankan perusahaan-perusahaan Jerman memang membutuhkan Cina sebagai pasar mereka. Tapi BDI juga memperingatkan bahaya Cina yang masih tidak mau membuka pasar domestik mereka dan BDI pun membuat 54 tuntutan. 

"Demi kepentingannya sendiri Beijing harus membuka pasar domestik mereka dan secara tepat mengimplementasikan reformasi ekonomi yang sudah lama mereka umumkan," kata Presiden BDI Dieter Kempf, Kamis (10/1). 

Dalam makalah tersebut, BDI meminta Uni Eropa untuk membuat kerangka kerja ekonomi yang lebih kuat lagi untuk pasar internal mereka sendiri. Ini perlu dilakukan untuk mengikat perusahaan-perusahaan dari Non-Market Economies (NMEs) dengan sistem ekonomi liberal mereka sendiri. 

"Bagi Uni Eropa, kini lebih penting daripada sebelumnya untuk tidak hanya menguraikan pentingnya nilai-nilai dan sistem mereka secara internal tapi juga menyebarkannya secara eksternal," kata BDI.

Di antara tuntutan-tuntutan mereka, BDI meminta Uni Eropa untuk memperketat peraturan subsidi. BDI meminta agar perusahaan yang tidak memproduksi barang di Uni Eropa tidak dapat menerima subsidi negara-negara Eropa. Mereka juga meminta Uni Eropa untuk berinvestasi di inovasi dan infrastruktur.  

Sebagai kelompok lobi terbesar di Jerman, pandangan BDI dapat menekan kebijakan pemerintah. Pada tahun 2017 lalu perdagangan bilateral antara Jerman dan Cina mencapai titik tertingginya yaitu sebesar 187 miliar euro. Hampir 30 persen perdagangan Uni Eropa dilakukan dengan Cina. 

Beberapa perusahaan terbesar Jerman termasuk Volkswagen dan BMW memiliki pasar yang tumbuh pesat di Cina. Dalam makalah yang berjudul 'Partner and Systemic Competitor - How to cope with China’s state-driven economic model?' itu, BDI menekankan Cina masih rekan bisnis yang sangat penting. 

"Meskipun demikian, masuk akal bagi industri Jerman untuk mempertahankan hubungan perdagangan dan keputusan investasi yang beragam, terlalu bergantung pada satu pasar selalu menimbulkan resiko politis dan ekonomis yang harusnya diminimalisir," kata BDI. 

Namun tidak semua pihak setuju mengambil sikap tegas terhadap Cina sebagai strategi terbaik. Kamar Dagang dan Industri Jerman DIHK memperingatkan hal tersebut akan menciptakan konfrontasi dengan Cina. Sementara ekspor Cina membuka 900 ribu lapangan pekerjaan di Jerman. 

"Makalah BDI tentang Cina membawa nada lain dalam perdebatan ini, tapi kami harus ingat Cina salah satu rekan dagang yang paling penting. Jadi setiap kata harus dipertimbangkan dengan hati-hati," kata ekonom DIHK Volker Treier. 

Hubungan erat Jerman-Cina ini dapat dilihat dalam rencana investasi Volkswagen bernilai miliar dolar AS di teknologi mobil listrik selama beberapa tahun ke depan. Salah satu investasi senilai 300 miliar dolar AS pabrik mobil tersebut. 

Setengah dari nilai itu ditargetkan untuk Cina. Volkswagen juga sudah membuat kesepakatan dengan dua pabrik mobil terbesar di Cina. "Masa depan Volkswagen ditentukan di pasar Cina," kata CEO Volkswagen Hebert Diess.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA