Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Uni Eropa Ingin Awasi Ketat Persaingan Perusahaan Teknologi

Senin 21 Jan 2019 23:07 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Bendera Uni Eropa.

Bendera Uni Eropa.

Foto: EPA/Patrick Seeger
Komisioner Uni Eropa berencana membuat kebijakan persaingan di era digital.

REPUBLIKA.CO.ID, COPENHAGEN -- Komisioner Uni Eropa Margrethe Vestager berencana mengakhiri masa jabatannya sebagai pengawas anti-trust atau perdagangan sehat Eropa tahun ini dengan sebuah terobosan. Ia akan membuat rencana jangka panjang yang akan mengawasi perusahaan teknologi di dunia dengan ketat.

Sebagai komisioner bidang persaingan Uni Eropa, Vestager dapat disebut regulator perusahaan teknologi terpenting di dunia. Sejak 2014, ia sudah membuat Google membayar denda antitrust miliaran dolar AS, ia memerintahkan Apple dan Amazon untuk membayar pajak dan mendenda Facebook atas akusisi Whatsapp.

Vestager menjadi salah satu orang yang paling ditakuti perusahaan teknologi. Tahun ini akan menjadi tahun terakhirnya di Uni Eropa. Politisi asal Denmark tersebut berencana membuat sebuah regulasi yang terus diberlakukan meski masa jabatannya sudah berakhir pada bulan Oktober 2019 mendatang.

Ia berencana membuat panduan kebijakan persaingan Uni Eropa di era digital. Vestager mengatakan berdasarkan data yang dihimpun dari perusahaan-perusahaan, grup-grup bisnis dan para ahli, banyak yang melihat saat ini dibutuhkan regulasi baru atau yang lebih ketat terkait persaingan usaha di era digital.

"Yang paling terpenting mayoritas masukan itu pro-penegakan regulasi," kata Vestager, Senin (21/1).

Vestager mengatakan laporan dari tiga ahli yang akan dirilis pada bulan Maret nanti akan mencerminkan kebutuhan regulasi baru dan ketat lagi. Ia menambahkan industri teknologi tidak boleh lagi dibiarkan membentuk dirinya sendiri.  "Kami melampaui hal itu," kata Vestager.

Belum diketahui apakah regulasi yang baru akan mengincar perusahaan-perusahaan teknologi yang sudah dihadapi Vestager atau tidak. Ia membuka tiga kasus antitrust terhadap Google termasuk satu kasus yang menghasilkan denda terbesar yaitu 5 miliar dolar AS.

Vestager mendenda Google setelah memaksa perusahaan-perusahan telpon pintar memasang Google dalam telpon pintar Android mereka. Ia juga berhasil mendenda Google sebesar 2,8 miliar dolar AS atas manipulasi pencarian belanja di mesin pencari mereka.

Ia berencana untuk menyelesaikan satu kasus lagi sebelum masa jabatannya berakhir. Ia sedang menyelidiki apakah Google memblokir pesaing mereka di layanan Adsense atau tidak.

Vestager meminta Apple membayar pajak ke Irlandia sebesar 15 miliar dolar AS. CEO Apple Tim Cook menyebut kasus itu 'sampah politik' dan Presiden AS Donald Trump menyebut Vestager sebagai 'Nyonya Pajak' yang sangat benci Amerika.

Komisioner persaingan Uni Eropa dengan staf 900 memiliki wewenang yang sangat tidak biasa di Brussel. Hal itu karena mereka menegakkan regulasi Uni Eropa yang luas yang membuat mereka dapat menyelidiki negara atau perusahaan.

Departemen lainnya di Uni Eropa biasanya bekerja sama dengan pemerintah negara. Tugas Vestager meliputi menyetujui atau menolak merger serta menyelidiki perilaku kartel dan antitrust. Ia juga memastikan negara-negara Eropa tidak memberikan keringanan pajak kepada satu perusahaan tertentu. Sebuah praktik yang sah di AS tapi ilegal di Eropa.

Saat ini industri teknologi fokus mengembangkan teknik pengumpulan data. Kini data menjadi pendorong komoditas ekonomi digital. Para perusahaan teknologi mengumpulkan data dari peramban, aplikasi, telpon pintar dan berbagai perangkat lainnnya.

Data-data itu biasanya sangat bernilai bagi perusahaan teknologi. Karena dengan data itu mereka dapat mengetahui tentang perilaku dan kebiasaan konsumen. Data dapat memperkuat kecerdasan artifisial yang ingin juga sedang dikembangkan banyak perusahaan teknologi.

Data dengan kecerdasan artifisial itu yang mengkategorikan iklan sesuai dengan kebiasaan pengguna atau konsumen. Vestager khawatir dengan data sebagian kecil perusahaan besar dapat memonipoli pasar dengan kekuatan mereka.

Ia mulai melakukan penyelidikan informal untuk mengetahui apakah perusahaan raksasa Amazon menggunakan data konsumen untuk mendapatkan keuntungan dari pihak ketiga. Entah data konsumen atau pesaing para pedagang yang menjual mereka di Amazon. Ia berharap dapat memastikan apakah perlu melakukan penyelidikan formal dalam enam bulan kedepan.

Banyak orang yang tidak paham pentingnya informasi pribadi mereka. Uni Eropa memperkenalkan regulasi baru yang mengharuskan perusahaan teknologi lebih transparan kepada konsumen tentang apa yang mereka lakukan terhadap data konsumen.     

Tapi para konsumen masih sering kawalahan membaca syarat dan ketentuan dalam setiap situs baru yang mereka kunjungi. Vestager yang juga anggota partai kecil di Denmark yakin dengan pasar bebas. Ia mengatakan sektor swasta dapat memiliki peran dalam menemukan solusinya.

"Saya pikir Anda membutuhkan produk yang dapat membantu Anda menggunakan hak Anda, asisten independen digital akan memastikan pengaturan privasi Anda tetap terjadi dimana pun Anda berada, hal-hal semacam itu," kata Vestager.

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA