Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Pengamat: Rupiah Masih akan Tertekan

Rabu 14 Mar 2018 17:46 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Teguh Firmansyah

Rupiah Makin Melemah. Petugas menghitung mata uang Rupiah di Bank Mandiri, Jakarta, Senin (5/3).

Rupiah Makin Melemah. Petugas menghitung mata uang Rupiah di Bank Mandiri, Jakarta, Senin (5/3).

Foto: Republika/ Wihdan
Rupiah cenderung melemah menjelang pertemuan Federal Open Market Commitee.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bersifat sementara. Menurut Ekonom Indef Bhima Yudhistira, rupiah akan cenderung melemah menjelang pertemuan Federal Open Market Commitee (FOMC) pada 20-21 Maret mendatang.

"Rupiah masih bergerak di 13.700 -13.800 per dolar AS sampai akhir Maret. Ini karena investor masih berspekulasi soal hasil keputusan rapat Fed atau FOMC pada tanggal 20-21 Maret terkait rencana kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR)," ujar Bhima kepada Republika.co.id, Rabu (14/3).

Bhima memprediksi dolar AS akan kembali menguat karena data- data ekonomi AS masih bervariatif.

 

Baca juga, Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp 15 Ribu, Ini Respons BI.

 

Data Ketenagakerjaan AS memperlihatkan, indeks harga konsumsi (CPI) AS berada di level 0,2 persen. Meskipun sesuai perkiraan pasar, angka tersebut di bawah pencapaian sebelumnya di level 0,5 persen.

 

photo

Nilai tukar rupiah yang sedang terseok

 

Sementara itu, laju inflasi inti berada di level 1,8 persen secara tahunan (yoy) atau sesuai dengan perkiraan, dan sama dengan periode sebelumnya.

Data- data tersebut membuat kepercayaan pasar akan kenaikan suku bunga The Fed bisa naik maksimal tiga kali tahun ini. "Isyarat Trump lakukan reformasi pajak jilid 2 juga jadi sentimen positif investor untuk kembali ke AS," ujar Bhima.

Sementara itu apabila sinyal kenaikan FFR cukup besar pada FOMC Maret ini, diprediksi dana asing akan kembali keluar dari Indonesia. Saat ini tercatat dana asing yang keluar dari pasar surat utang mencapai Rp 5,2 triliun (ytd), sedangkan aliran modal keluar (foreign outflow) di pasar modal Rp15 triliun (ytd).

Di sisi lain, sentimen dari dalam negeri belum begitu besar. "Karena menjelang tahun politik banyak investor yang profit taking dan keluar sementara dari bursa," katanya.

Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta pada Rabu (14/3) pagi bergerak naik empat poin menjadi Rp13.731 per dolar AS dari Rp13.735 per dolar AS.

 

Penguatan rupiah baru terjadi sejak awal pekan. Tercatatsepanjang Maret 2018, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS telah melemah 0,27 persen.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA