Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Aksi Saling Serang Jurnalis dan Rompi Kuning Berlanjut

Ahad 27 Jan 2019 16:07 WIB

Rep: Lintar Satria / Red: Nashih Nashrullah

Aksi unjuk rasa rompi kuning di Kota Paris, untuk memprotes kenaikan harga dan reformasi ekonomi.

Aksi unjuk rasa rompi kuning di Kota Paris, untuk memprotes kenaikan harga dan reformasi ekonomi.

Foto: AP//Claude Paris
Aksi serangan dipicu kekecawaan Rompi Kuning atas ketidaknetralan media.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS— Para pengunjuk rasa yang menamakan diri mereka aktivis rompi kuning menyerang jurnalis Prancis. Seorang reporter surat kabar Republicain Lorrain, Alain Morvan jatuh tidak sadarkan diri saat perutnya dipukul salah satu pengunjuk rasa Rompi Kuning. 

Jurnalis itu tidak sadarkan diri di pinggir jalan yang jaraknya hanya beberapa meter di jalan besar di mana mobil lalu-lalang di Longeville-les-Saint-Avold. 

Penyerangnya ingin memukulnya sekali lagi, tapi pengunjuk rasa lainnya menahan orang itu. 

Saat itu Morvan sedang ingin mengambil gambar tapi salah satu pengunjung rasa melarangnya. Ia berhadap-hadapan dengan orang itu. Morvan sudah memberitahu bahhwa dirinya seorang jurnalis tapi pengunjuk rasa itu justru semakin marah dan menyerangnya. 

"Saya sangat terkejut dan tidak mengerti mengapa hal ini terjadi, terutama saya sudah mewawancara para pengunjuk rasa ini beberapa kali, banyak dari mereka yang mengenal saya," kata Morvan seperti dilansir di Deutsche Welle, Ahad (27/1).  

Sejak unjuk rasa rompi kuning di mulai tidak hanya Morvan tapi belasan reporter, operator kamera, dan penjaga keamanan mereka diserang baik secara fisik maupun verbal. 

Pengunjuk rasa Rompi Kuning awalnya memprotes kenaikan pajak bahan bakar tapi terus meluas menjadi permasalahan ekonomi lainnya. 

Selama beberapa pekan belakangan ini kemarahan pengunjuk rasa Rompi Kuning terhadap media Prancis semakin menguat. 

Salah satu pengunjuk rasa, Christophe Chalencon, mengatakan Rompi Kuning butuh media untuk menyebarkan tuntutan mereka. 

Tapi, kata Chalencon, banyak pengunjuk rasa yang merasa jurnalis bagian dari elit yang merendahkan mereka. 

Chalencon mengatakan banyak di antara pengunjuk rasa yang sudah lama menunggu suara mereka didengarkan. Kini ketika akhirnya para jurnalis datang banyak pengunjuk rasa yang justru merasa dikhinati.  

"Mewawancarai para pengunjuk rasa selama setengah jam tapi para jurnalis hanya memasukan 30 detik ke laporan mereka, terkadang mengubah apa yang sebenarnya pengunjuk rasa maksudkan, itu sebabnya banyak dari mereka yang akhirnya bisa memberitahu dunia apa yang mereka khawatirkan merasa dikhianati," kata Chalencon.   

Tapi bukan hanya pengunjuk rasa Rompi Kuning yang mencurigai cara kerja media. Berdasarkan jajak pendapat yang digelar Kantar Sofres dan surat kabar La Croix hanya 38 persen rakyat Prancis mempercayai apa yang mereka lihat di televisi, hanya 50 persen yang percaya dengan apa yang mereka dengar di radio, dan hanya 44 persen yang percaya apa yang mereka baca di surat kabar.

Seorang sosiolog dari CNRS Research Institute, Jean-Marie Charon, mengatakan serangan publik ke media sudah semakin dapat diterima.

Charon mengatakan, ketika ia bekerja disebuah kementerian pada 1990-an tabu rasanya untuk menyerang media karena fungsinya yang penting dalam demokrasi.  

"Sekarang politisi dari semua pihak baik dari sayap kiri atau kanan, juga Presiden Emmanuel Macron sendiri merasa wajar untuk menyebut nama atau mempermalukan wartawan," kata Charon.   

Sosiolog lainnya Yves Patte yang lama mengobservasi Belgia mengatakan Prancis mengalami krisis kepercayaan. 

Menurut Patte banyak rakyat Prancis yang merasa ditinggalkan sistem. "Diwakilkan oleh politisi dan media, yang kerap menggelar debat di televisi antara para intelektual dibandingkan masyarakat biasa," kata Patte. 

Patte menambahkan, pada praktiknya pengunjuk rasa rompi kuning adalah rakyat biasa pertama yang diundang ke acara debat di televisi. 

"Terlebih lagi jurnalis Prancis kurang berani dengan politisi jika dibandingkan misalnya dengan rekan-rekan mereka di Inggris, hal itu menciptakan kesan adanya kolusi di antara mereka," kata Patte.  

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA