Saturday, 16 Rajab 1440 / 23 March 2019

Saturday, 16 Rajab 1440 / 23 March 2019

Kembali Jatuh, Ini Enam Fakta Seputar Boeing 737 MAX 8

Selasa 12 Mar 2019 15:03 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Teguh Firmansyah

Foto yang diambil dari video menunjukkan, petugas mencari korban di antara puing-puing jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines di daerah Hejere, sekitar 50 km dari selatan Addis Ababa, Kenya, Ahad (10/3).

Foto yang diambil dari video menunjukkan, petugas mencari korban di antara puing-puing jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines di daerah Hejere, sekitar 50 km dari selatan Addis Ababa, Kenya, Ahad (10/3).

Foto: AP
Boeing dari maskapai terlaris, kini diawasi ketat.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pertama kali diterbangkan pada 1967, Boeing Co 737 kini telah menjadi pesawat komersial terlaris di dunia. Adapun Generasi keempat dari 737 yang dikenal sebagai 737 Max memulai debutnya pada 2017. Maskapai Indonesia, Lion Air, menjadi salah operator komersial pertama yang menggunakan jenis pesawat tersebut.

Baca Juga

Namun, dua kecelakaan fatal dalam waktu lima bulan, yakni Lion Air JT610 pada Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines 302 pada Maret 2019 telah menempatkan catatan keamanan 737 yang sebelumnya sehat menjadi dalam pengawasan ketat.

Berikut beberapa fakta mengenai kecelakaan 737 MAX 8 dan dampaknya terhadap penerbangan internasional, seperti dilansir di Bloomberg:

1. Perusahaan penerbangan mana yang telah membeli 737 Max?

Ada banyak, tetapi sebagian besar pesanan belum dipenuhi. Pada Januari, Boeing melaporkan bahwa mereka telah mengirim 350 jet satu lorong itu ke 46 maskapai. Secara total, pesanan mencapai 5.000 pesawat dari sedikitnya 80 operator.

Sebagian besar penjualan adalah Max 8, model yang terlibat dalam dua kecelakaan. Ada juga, dari yang terkecil hingga yang terbesar, Max 7, 9, dan 10.

Mereka yang memakai pesawat jenis ini di antaranya Southwest Airlines (31 unit), American Airlines (22), dan Air Canada (20). Norwegian Air, Fly Dubai, dan beberapa maskapai penerbangan Cina juga mengoperasikannya. Maskapai penerbangan Cina menyumbang sekitar 20 persen dari 737 pengiriman Max secara global.

2. Apakah 737 Max akan dilarang terbang?

Ya, di beberapa tempat. Sehari setelah kecelakaan Ethiopian Airlines menewaskan seluruh 157 orang di dalamnya, Cina memerintahkan penangguhan terbang terhadap 96 jet Max yang beroperasi di negara itu. Ethiopian Airlines juga mengandangkan pesawatnya. Hal yang sama juga dilakukan maskapai Indonesia, Singapura, dan operator penerbangan di Meksiko dan Argentina.

3. Bagaimana dengan di AS?

Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) yang awalnya mengesahkan 737 Max memilih tidak mengandangkannya, setidaknya untuk saat ini. Regulator yang berbasis di Washington ini mengeluarkan pemberitahuan global tentang kelaikan udara berkelanjutan dan berjanji akan mengambil tindakan segera dan tepat.

Di antara maskapai penerbangan AS, Southwest mengatakan yakin akan keselamatan armadanya, termasuk Max. Adapun American Airlines mengatakan akan terus mengawasi penyelidikan Ethiopia.

Penghentian penerbangan sementara seluruh model pesawat yang dipesan AS sangat jarang terjadi. Terakhir kali badan ini melakukannya pada Januari 2013 sebagai akibat dari baterai litium-ion yang terlalu panas pada model Boeing 787. Badan ini bertindak setelah insiden kedua terjadi.

4. Bagaimana saya dapat memeriksa apakah penerbangan saya menggunakan 737 Max?

Jika Anda sudah memiliki tiket, Anda dapat mengetahui dari perincian pemesanan. Jika Anda melakukan pemesanan daring (online), banyak situs yang menunjukkan model atau tipe pesawat. Jika tidak, situs web seperti flightstats.com memungkinkan Anda menggali perincian penerbangan setidaknya beberapa hari sebelumnya, termasuk merek dan tipe pesawat.

5. Bagaimana Max berbeda dari 737 sebelumnya?

Pesawat ini memiliki mesin yang lebih besar, menggabungkan lebih banyak otomatisasi, memiliki jangkauan yang lebih jauh (hingga sekitar 3.550 mil atau 6.570 kilometer), dan menggunakan lebih sedikit bahan bakar. Max diproduksi sebagai respons terhadap model baru A320neo dari rivalnya di Eropa, Airbus SE.

Setelah kecelakaan Lion Air, terungkap bahwa 737 Max memiliki perangkat lunak yang memaksa hidung pesawat ke bawah dalam kondisi tertentu untuk mencegah kondisi stall (pesawat kehilangan daya angkut karena hidung yang mengarah ke atas dengan sudut lebih dari 15 derajat).

Dari penyelidikan mengenai Lion Air juga diketahui bahwa beberapa pilot tidak mengetahui sistem tersebut. Boeing belakangan mengeluarkan pedoman lebih lanjut tentang sistem baru tersebut.

6. Apakah kedua kecelakaan itu terkait?

Masih terlalu dini untuk mengatakan kecelakaan Lion dan Ethiopian Airlines terkait. Namun, ada beberapa kesamaan, di antaranya insiden terjadi tidak lama setelah lepas landas ketika pesawat terbang tidak menentu dan pilot diminta untuk kembali ke bandara.

Sebuah laporan awal dari kecelakaan Lion Air yang menewaskan 189 orang mengindikasikan bahwa para pilot pesawat itu berjuang untuk mempertahankan kontrol menyusul kerusakan peralatan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA