Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Tiga Negara Eropa Tetap Dukung Perjanjian Nuklir Iran

Senin 10 Jun 2019 18:32 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Seorang pekerja minyak Iran bersepeda di kilang minyak Teheran selatan Ibu Kota Teheran, Iran.

Seorang pekerja minyak Iran bersepeda di kilang minyak Teheran selatan Ibu Kota Teheran, Iran.

Foto: AP
Tiga negara Eropa ingin menghindari eskalasi militer di wilayah Teluk.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Tiga negara Eropa, yakni Inggris, Prancis, dan Jerman, berkomitmen untuk tetap mendukung perjanjian nuklir dengan Iran. Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan, eskalasi militer di wilayah Teluk sangat penting untuk dihindari.

Baca Juga

"Kami ingin memenuhi kewajiban kami. Kami akan mencoba untuk mencegah kegagalan (dari perjanjian nuklir)," ujar Maas dalam konferensi pers, Senin (10/6).

Maas mengatakan, sangat penting untuk melanjutkan dialog dengan Iran. Sebab, situasi di wilayah Timur Tengah saat ini sangat serius dan tidak menutup kemungkinan dapat meletus sewaktu-waktu. 

"Situasi di wilayah ini sangat eksplosif dan sangat serius. Peningkatan berbahaya dari ketegangan yang ada juga dapat menyebabkan peningkatan militer," kata Maas.

Maas memperingatkan bahaya yang ditimbulkan atas konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) bagi wilayah Timur Tengah. Maas mengatakan, Eropa optimistis bahwa ada baiknya mencoba menjaga pakta nuklir dengan Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan, Iran dan Jerman melakukan pembicaraan serius untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir 2015 dengan menggunakan kekuatan dunia. Menurut dia, Teheran akan bekerja sama dalam penandatanganan kesepakatan Uni Eropa untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir tersebut.

"Kami telah melakukan pembicaraan yang nyata dan serius dengan (Menteri Luar Negeri Jerman) Maas. Teheran akan bekerja sama dalam penandatanganan Uni Eropa dan menyelamatkan kesepakatan (nuklir)," ujar Zarif dalam konferensi pers bersama. 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menarik diri dari perjanjian nuklir Iran pada tahun lalu. Selain itu, AS kembali menerapkan sanksi terhadap Iran. Sanksi tersebut membuat perekonomian Iran memburuk. 

Ketegangan antara Iran dan AS dalam beberapa pekan terakhir terjadi setelah Washington menerapkan kembali sanksi ekonomi terhadap Iran. Sanksi tersebut diterapkan setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir. Tak hanya itu, AS menduga Iran telah menyerang kepentingannya di Timur Tengah. Oleh karena itu, AS mengirim pasukan militer ke kawasan tersebut untuk mengantisipasi serangan Iran. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA