Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Macron Peringatkan Iran tak Hengkang dari Kesepakatan Nuklir

Kamis 27 Jun 2019 16:25 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Prancis Emmanuel Macron

Presiden Prancis Emmanuel Macron

Foto: AP Photo/Thibault Camus
Macron menilai keluarnya Iran sebagai suatu kesalahan.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan Iran agar tak hengkang dari kesepakatan nuklir yang dicapai pada 2015 atau dikenal dengan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Dia menilai langkah keluar dari kesepakatan itu akan menjadi sebuah kesalahan.

Baca Juga

“Saya melakukan percakapan dengan Presiden (Iran Hassan) Rouhani beberapa hari lalu dan saya mengindikasikan setiap langkah keluar dari perjanjian itu akan menjadi kesalahan dan setiap sinyal ke arah itu akan menjadi kekeliruan,” ujar Macron, Kamis (27/6).

Iran diketahui telah menangguhkan beberapa komitmennya dalam JCPOA. Dengan demikian, ia mengklaim dapat melakukan pengayaan uranium untuk pembangkit nuklirnya. Hal itu dilakukan Iran karena terus mendapatkan tekanan dan sanksi dari Amerika Serikat (AS).

AS merupakan salah satu pihak yang terlibat dalam JCPOA. Namun, pada Mei 2018, Presiden AS Donald Trump memutuskan menarik negaranya dari kesepakatan tersebut. Trump menilai JCPOA cacat karena tak mengatur tentang program rudal balistik Iran dan peran negara tersebut dalam konflik di kawasan.

Setelah hengkang, AS pun menerapkan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran. Tujuannya adalah menekan Teheran agar sudi merundingkan ulang kesepakatan nuklirnya. Namun, Iran selalu menolak tuntutan Washington.

Pada Senin (24/6), pemerintahan Trump kembali menjatuhkan sanksi kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan delapan pemimpin senior Pasukan Garda Revolusi Iran. Komandan angkatan udara dan pasukan darat, serta lima pemimpin distrik angkatan laut Iran turut dikenakan sanksi oleh AS.

Menurut Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, sanksi terhadap Khamenei adalah berupa pemblokiran akses terhadap aset-asetnya yang bernilai miliaran dolar. Mnuchin pun menyebut Trump telah menginstruksikan agar Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif turut dijatuhi sanksi akhir pekan ini.

Penerpan sanksi terhadap Khamenei dan tokoh-tokoh militer Iran terjadi setelah pesawat nirawak (drone) milik AS ditembak jatuh Garda Revolusi Iran pekan lalu. Peristiwa itu seketika meruncingkan situasi di kawasan.

Pemerintah Iran mengecam sanksi yang dijatuhkan AS terhadap Khamenei. Teheran menyebut langkah itu telah menutup pintu diplomasi.

"Sanksi yang tidak berguna terhadap Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dan komandan diplomasi Iran berarti menutup pintu diplomasi oleh pemerintah putus asa AS," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi melalui akun Twitter pribadinya pada Selasa (25/6).

Menurut dia, sanksi tersebut turut menunjukkan watak asli Trump yang tak memedulikan tatanan internasional. "Pemerintah Trump memusnahkan semua mekanisme internasional yang mapan untuk menjaga perdamaian serta keamanan dunia," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA