Sunday, 19 Jumadil Akhir 1440 / 24 February 2019

Sunday, 19 Jumadil Akhir 1440 / 24 February 2019

Maduro Tantang Obama di Dialog Tingkat Tinggi

Sabtu 22 Feb 2014 16:43 WIB

Red: Didi Purwadi

Nicolas Maduro

Nicolas Maduro

Foto: AP/Fernando Llano

REPUBLIKA.CO.ID, KARAKAS -- Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menantang timpalannya Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, pada Jumat untuk mengadakan dialog tingkat tinggi di antara pemerintah mereka. Maduro mengusulkan menunjuk duta besar untuk Washington.

Pengumuman mendadak itu mengejutkan mengingat hubungan Washington dengan Karakas memburuk di bawah pendahulu Maduro, mendiang Hugo Chavez. Hubungannya makin memburuk sejak kematiannya pada Maret 2013.

"Saya imbau dialog dengan Anda, Presiden Obama... antara patriot dan revolusioner Venezuela dan Amerika Serikat dan pemerintahnya. Terima tantangan dan kami akan memulai dialog tingkat tinggi serta menempatkan kebenaran di meja perundingan," kata Maduro kepada para wartawan asing.

Maduro disebut secara ekstensif selama konferensi pers terhadap perbedaan kedua negara yang telah melebar selama gelombang protes oposisi mematikan di negara anggota OPEC terkemuka itu sejak awal Februari. Sedikitnya delapan orang telah tewas dalam kekerasan tersebut.

Presiden Venezuela, yang pemerintahnya mengklaim pemimpin oposisi dibayar oleh Washington, menuduh Amerika Serikat merencanakan penggulingan dirinya.

''Badan intel AS telah memberikan lampu hijau untuk menggulingkannya dari pemerintah yang saya pimpin," kata Maduro.

Maduro mengatakan akan menunjuk Menteri Luar Negeri Elias Jaua untuk pembicaraan dengan Amerika Serikat, mendesak Obama untuk menunjuk Menteri Luar Negeri John Kerry atau "siapa pun".

Tetapi, pemimpin Venezuela juga mengakui bahwa setiap dialog antara musuh lama itu akan "sulit dan kompleks".

"Presiden Barack Obama, sekarang adalah waktunya bagi elite yang berkuasa di Amerika Serikat untuk merasakan hal yang sama ketika datang untuk berbicara tatap muka dengan gerakan revolusioner di Amerika Latin," katanya.

Sumber : Antara/AFP
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA