Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

WHO: Percobaan Vaksin Ebola Bulan Depan

Ahad 10 Aug 2014 02:53 WIB

Rep: c64/ Red: M Akbar

Seorang perawat memeriksa pasien yang diduga terinfeksi virus Ebola.

Seorang perawat memeriksa pasien yang diduga terinfeksi virus Ebola.

Foto: WHO/Chris Black/ca

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON --  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  mengatakan uji klinis terkait vaksin virus Ebola dimungkinkan dilakukan pada bulan depan.

Vaksin Ebola tersebut dibuat khusus oleh perusahaan farmasi Glaxo Smith Kline Inggris. Vaksin tersebut diperkirakan baru tersedia pada 2015 mendatang.

"Kami menargetkan, pada September nanti  dapat memulai uji klinis vaksin ini, yang pertama akan dilakukan di Amerika dan tentunya di negara-negara Afrika. Karena disanalah terdapat kasus," ujar Jean Marie Okwo Bele, Kepala Vaksi dan Imunisasi, WHO, seperti yang dilansir AFP, Sabtu (9/8)..

Ia mengatakan sangat optimis dengan pembuatan vaksin Ebola ini. "Kami berpikir bahwa kita akan mulai pada September dan kita sudah memperoleh hasil uji klinis pada akhir tahun ini,"lanjutnya.

Dikarenakan hal ini merupakan keadaan darurat maka, hal ini dapat diletakkan dalam prosedur darurat. Sehingga, pada 2015 depan vaksin tersebut sudah dapat tersedia.

Hingga saat ini, tidak ada obat atau vaksin yang tersedia untuk mengatasi virus Ebola. Dimana, virus ini menyebabkan demam parah, bahkan dalam kasus terburuknya dapat menyebabkan pendarahan yang berlebihan.

Ia mengungkapkan, sekitar seribu jiwa telah terjangkit epidemi ini di seluruh Afrika Barat pada tahun ini. Disebutnya, tingkat kematian bisa mendekati 90 persen, meskipun kasus yang terbaru ini telah menewaskan sekitar 55 hingga 60 persen dari mereka yang terinfeksi.

Saat ini, beberapa vaksin tengah diuji dan sebuah pengobatan dari Mapp biofarmasi, ZMapp yang berbasis di San Diego telah menunjukan hasil yang menjajikan pada monyet. Dan, dimungkinkan dapat efektif mengobati dua orang Amerika yang baru terinfeksi di Afrika.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA