Jumat 28 Nov 2014 13:59 WIB

Soal Pakta Perubahan Iklim, Prancis: Mari Ciptakan Sejarah

Rep: C14/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Francois Hollande
Foto: ap
Francois Hollande

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Presiden Perancis, François Hollande, pada Kamis (27/11) mengimbau seluruh negara untuk berani menciptakan sejarah pada pertemuan internasional tahun depan di Paris. Adapun pertemuan tersebut merupakan konferensi PBB pada Desember 2015 yang akan meratifikasi pakta perubahan iklim.

Presiden yang mengaku sebagai pendukung enviromentalisme itu berharap, pakta tersebut dapat mempelopori kesepahaman global dalam mengikis emisi gas rumah kaca. Itu agar pemanasan global dapat dibatasi hingga dua derajat Celsius. Demikian seperti dilansir Arab News.

"Saya harap juga, pakta ini akan berdampak positif bagi isu transisi energi dunia," kata François Hollande, Kamis (27/11).

Berdasarkan laporan terkini yang dilakukan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), hanya ada sedikit waktu untuk mengatasi pemanasan global. Sebab, dewasa ini tingkat gas efek rumah kaca kian meningkat. Diprediksi, menjelang tahun 2100, suhu di bumi akan naik sebanyak empat derajat Celsius.

Kenaikan suhu bumi juga berdampak pada peningkatan intensitas bencana, seperti kekeringan, banjir air laut, kelangkaan spesies, dan berkurangnya bahan makanan. Menurut François Hollande, pencegahan bencana tersebut merupakan kewajiban semua pihak.

Karena itu, pertemuan di Paris pada 2015 nanti didahului dengan pembicaraan mengenai perubahan iklim di Lima, Peru, bulan depan. Negosiasi internasional terkait perubahan iklim sendiri telah berlangsung cukup lama dalam beberapa tahun terakhir.

Itu untuk mendesak negara-negara agar menanggung biaya pengurangan emisi karbon. Adapun negara-negara miskin sudah menyatakan, perubahan cuaca merugikan warga mereka. Selain itu, negara-negara miskin juga berpendapat, negara-negara maju harus menanggung tanggung jawab yang lebih besar terkait produksi emisi mereka.

Negara-negara maju, sebaliknya, menyatakan, negara berpenduduk banyak seperti India dan Republik Rakyat Cina (RCC) menghasilkan lebih banyak emisi. Mengingat kedua negara tersebut cenderung mengandalkan batu bara sebagai sumber energi.

Sementara itu, Presiden Hollande menegaskan pentingnya isu lingkungan di Perancis. Terutama, beberapa pekan setelah tersiar berita tewasnya aktivis pro-lingkungan ketika sedang berdemonstrasi menuntut sebuah proyek bendungan. Aktivis itu bernama Remi Fraisse (21 tahun).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement