Friday, 15 Rajab 1440 / 22 March 2019

Friday, 15 Rajab 1440 / 22 March 2019

Mainan Buatan Cina Puncaki Daftar Produk Berbahaya di Eropa

Selasa 24 Mar 2015 09:48 WIB

Red: Agung Sasongko

Produk Cina

Produk Cina

Foto: Republika/Yulianingsih

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSEL -- Dari pemantik api rokok berbentuk mainan sampai korek api berbentuk kelinci, lembaga perlindungan konsumen Eropa memperingatkan mengenai semakin banyaknya produk berbahaya yang kebanyakan berasal dari Cina.

Lembaga perlindungan konsumen Eropa ini telah mengeluarkan 2.435 notifakasi untuk produk-produk tak aman, mulai dari mainan anak sampai pakaian yang jumlahnya pada 2014 tiga persen lebih banyak dibandingkan dengan 2013.

64 persen dari produk-produk berbahaya itu buatan Cina, termasuk Hongkong, yang jumlahnya sama dengan statistik 2013, kata Rapid Alert System (RAPEX), yang beranggotakan 28 negara Uni Eropa termasuk Norwegia, Islandia dan Liechtenstein.

"Bagi saya, sebagai seorang ibu dan sekaligus nenek, jumlah besar produk-pruduk mainan berbahaya adalah mencemaskan, oleh karena itu waspadalah terhadap mainan yang Anda berikan kepada anak-anak Anda," kata Vera Jourova, komisioner Eropa urusan konsumen, seperti dilansir AFP, Selasa (24/3).

"Yang juga mengejutkan adalah betapa banyak jumlah produk berbahaya yang datang ke pasar Eropa yang berasal dari Cina," kata dia dalam jumpa pers di Brussels.

Mainan anak menduduki peringkat pertama produk-produk yang diblokir sebelum masuk pasar Eropa yang mencapai 28 persen, diikuti pakaian (23 persen), alat-alat listrik (sembilan persen) dan kendaraan bermotor (delapan persen).

Produk-produk berbahaya itu termasuk mainan anak yang bisa membuat anak tersedak, dan ada juga pemantik berbentuk mainan seperti sepeda dan bola basket yang membahayakan jika dijangkau anak.

Sepatu dan bahan-bahan kulit dianggap memicu alergi Chromium VI, sedangkan produk perhiasan mengandung bahan logam berat berbahaya. Hanya 14 persen dari produk-produk berbahaya itu berasal dari negara-negara Eropa, tujuh persen tak diketahui asalnya dan dua persen dari Turki.

Keprihatian besar muncul karena begitu banyak berasal dari Cina padahal negara itu mempunyai penetrasi pasar yang besar di 28 negara Uni Eropa. "Jumlah dan situasinya tidak membaik," sambung dia.

Jourova mengatakan, Uni Eropa tengah bekerjasama secara bilateral dengan para produsen Cina untuk membantu mereka memahami standar keamanan Eropa.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA