Ahad 24 May 2015 23:58 WIB

Usai Gempa, Korban Perdagangan Manusia di Nepal Meningkat

Rep: C36/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Lata Chand dan sang bayi yang lahir di tengah gempa Nepal.
Foto: ap
Lata Chand dan sang bayi yang lahir di tengah gempa Nepal.

REPUBLIKA.CO.ID, KATHMANDU – Dalam sebulan terakhir, aparat keamanan penjaga perbatasan, The Sashastra Seema Bal (SSB),  telah menangkap 15 tersangka penyelundup manusia di perbatasan Nepal-India. Sebanyak 50 gadis muda dan anak laki-laki yang diduga diperdagangkan juga turut terjaring operasi kelompok tersebut.

Menurut Direktur SSB, BD Sharma, penyelundupan pekerja baik wanita maupun anak-anak terjadi akibat gempa bumi  25 April lalu. Minimnya pekerjaan, kurangnya bahan logistik serta kemiskinan memicu masyarakat Nepal untuk sering melintas di wilayah perbatasan.

"Kami menyaksikan lonjakan besar perdagangan manusia di sepanjang perbatasan Nepal-India. Unit kami, di sepanjang daerah Bihar dan Uttar Pradesh banyak menahan anak laki-laki dan perempuan yang diduga akan menyeberang perbatasan secara ilegal,” ujar Sharma, Ahad (24/5).

Karena itu, dia meminta semua unit di perbatasan untuk mewaspadai tindakan mencurigakan dari warga Nepal.  Penjagaan dilakukan sekurang-kurangnya  1.751 kilometer sepanjang perbatasan. Sebuah laporan yang disusun SSB menyebutkan, korban perdagangan manusia ditangkap di kawasan Bihar, Rupaidiha dan Mahrajganj di Uttar Pradesh dan Jhulaghat di Uttarakhand.

Di antara mereka yang tertangkap, ada 48 anak laki-laki dan 14 perempuan. Usia mereka berkisar antara 10-20 tahun. Laporan juga mengungkapkan perdagangan manusia mulai terjadi pada 2 Mei, sekitar sepekan setelah gempa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement