Selasa 09 May 2017 14:42 WIB

Obama Pernah Peringatkan Trump Terkait Penunjukan Flynn

Rep: Puti Almas/ Red: Ani Nursalikah
Mantan presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama disebut pernah memperingatkan penggantinya, Presiden Donald Trump atas penunjukan Michael Flynn sebagai penasihat keamanan nasional.
Foto: Reuters/Gary Cameron
Mantan presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama disebut pernah memperingatkan penggantinya, Presiden Donald Trump atas penunjukan Michael Flynn sebagai penasihat keamanan nasional.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Mantan presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama disebut pernah memperingatkan penggantinya, Presiden Donald Trump atas penunjukan Michael Flynn sebagai penasihat keamanan nasional. Ia menilai keputusan yang dilakukan Trump untuk memilih Flynn adalah hal yang salah.

Menurut Juru Bicara Gedung Putih Sean Spicer, Obama pernah memberi peringatan tentang Flynn hanya beberapa saat sebelum pemilihan umum AS digelar 8 November 2016. Hal itu menjadi yang pertama kalinya dari pria berusia 55 tahun tersebut untuk secara langsung berbicara untuk membahas urusan politik pemerintahan baru yang dipimpin Trump.

Obama sebelumnya pernah menekankan dirinya memilih tidak terlibat sama sekali dengan pemerintahan baru AS. Ia membiarkan penerusnya bertindak penuh di Gedung Putih, meski mengatakan tetap siap membantu dan bertindak apabila ada hal-hal baru yang ditetapkan oleh Trump melanggar prinsip-prinsip paling dasar, khususnya dalam penegakan hak asasi manusia (HAM).

"Memang benar Obama pernah peringatkan terkait penunjukan Flynn karena menilai ia tidak cocok memiliki jabatan penasihat keamanan nasional AS dan ini bukanlah hal yang mengejutkan," ujar Spicer, dilansir BBC, Selasa (9/5).

Flynn mengundurkan diri dari jabatan sebagai penasihat keamanan nasional AS pada Februari lalu. Ia telah mengakui pernah bertemu dengan pejabat Rusia saat dirinya menjadi bagian dari tim kampanye Trump. Saat itu, ia disebut melakukan pembicaraan mengenai sanksi Rusia yang diberikan oleh AS.

Pensiunan jenderal itu kemudian berada di bawah pengawasan pemerintah setelah laporan intelijen mengatakan Flynn melakukan percakapan sepanjang kampanye presiden AS pada 2016. Secara hukum, ia telah melakukan pelanggaran karena mencampuri urusan diplomatik negara saat tidak memiliki kewenangan apa pun. Flynn juga gagal meyakinkan Senat AS untuk membenarkan alasan khusus di balik pertemuan dan percakapan itu.

Menurut Spicer, bukan hal mengejutkan jika Obama memberi peringatan terhadap Trump mengenai penunjukkan Flynn. Hal ini mengingat ia pernah mempekerjakan Flynn sebagai kepala badan intelijen di Kementerian Pertahanan AS saat masa pemerintahannya, hingga diberhentikan pada 2014.

"Ini bukan sesuatu yang aneh karena mengingat Obama tentu mengetahui bagaimana Flynn dan kinerjanya, serta apa pun itu," kata Spicer.

Pemecatan terhadap Flynn dilakukan Obama dengan alasan temparamen yang ia miliki sangatlah buruk. Ia juga disebut telah salah langkah dalam mengatur intelijen pertahanan yang merupakan tanggung jawab utamanya.

Selain Flynn, orang terkait Trump yang saat ini mendapat pertanyaan terkait percakapan dengan pejabat Rusia adalah Jaksa Agung AS Jeff Sessions. Ia diduga pernah melakukan pembicaraan dengan Kislyak sepanjang 2016 dan dinilai kemungkinan membantu campur tangan negara itu dalam pemilu AS. Sessions menjadi salah satu anggota tim kampanye Trump. Ketika itu juga, ia menjabat sebagai anggota Senat AS untuk Komite Angkatan Bersenjata.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement