Selasa 30 Dec 2014 14:50 WIB

Kasus Ebola Pertama Didiagnosis di Skotlandia

Rep: Gita Amanda/ Red: Winda Destiana Putri
Virus Ebola (ilustrasi).
Foto: Wikipedia.org
Virus Ebola (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, GLASGOW -- Seorang perawat awal Skotlandia tengah dirawat di unit isolasi di Glasgow, setelah didiagnosa terserang virus Ebola. Ini menjadi kasus Ebola pertama yang tercatat di tanah Inggris.

The Guardian, Selasa (30/12) melaporkan, seorang pekerja kesehatan diketahui baru kembali ke Glasgow melalui Heathrow pada Ahad (28/12) kemarin.

Beberapa jam setelah tiba di rumah ia merasa tak sehat, dan mengalami demam tinggi pada Senin (29/12). Perawat tersebut kini tengah dirawat di rumah sakit Gartnavel.

Para ahli kesehatan yang mengobati perawat mengatakan, kondisinya cukup stabil dan menunjukkan beberapa tanda klinis, sehingga meningkatkan harapan dia akan bertahan terhadap penyakit. Ia sebelumnya telah bekerja secara sukarela di sebuah rumah sakit baru di kota Kerry di Sierra Leone. Rumah sakit tersebut didirikan badan amal Save the Children sejak 23 November.

Direktur Save the Children Michael von Bertele mengatakan, mereka mengkonfirmasi adanya seorang pekerja kesehatannya yang bertugas di Sierra Leone dinyatakan positif ebola. Ia mengatakan, mengkhawatirkan perawat tersebut, keluarga dan rekan-rekannya.

"Kami ingin mereka cepat sembuh. Save the Children bekerja sama dengan pemerintah Inggris, Skotlandia dan unit Kesehatan Masyarakat Inggris terus memantau kasus tersebut," ujar Bertele yang menyatakan, perawat tak ingin diungkap identitasnya.

Langkah-langkah penting diambil oleh para pejabat berwenang dari Skotlandia dan Inggris. Mereka melacak puluhan penumpang Royal Air Marco yang terbang bersama perawat dari Casablanca di Maroko ke Inggris. Serta melacak 71 penumpang British Airway dari Heathrow ke Glasgow pada Ahad malam.

Menteri utama Skotlandia Nicola Sturgeon mengatakan pada Senin malam telah dilakukan pencarian penumpang. Sementara perawat yang diyakini berada pada tahap awal infeksi, dinyatakan bersih saat menjalani pemeriksaan di Sierra Leone dan Heathrow.

"Risiko orang lain terkena kasus Ebola ini dianggap sangat rendah. Mengingat tahap awal diagnosa tak menunjukkan tanda-tanda gejala yang mengarah pada penularan ke orang lain. Tak ada alasan bagi masyarakat Skotlandia untuk khawatir," kata Sturgeon dalam konferensi pers.

Di bawah protokol yang telah disepakati semua otoritas kesehatan Inggris, persiapan mendesak juga tengah dilakukan untuk mentransfer perawat ke pusat perawatan Ebola utama di Inggris. Di sana, Rumah Sakit Royal Free, perawat Inggris William Pooley berhasil di obati setelah tertular Ebola awal tahun ini. Skotlandia tak memiliki fasilitas khusus untuk mengobati ebola.

Sejak wabah Ebola dimulai pada Desember 2013, kini hampir 20 ribu kasus Ebola telah terdeteksi. Sementara lebih dari 7.500 kematian akibat Ebola dikonfirmasi dengan dominasi di wilayah Liberia, Guinea dan Sierra Leone.

Perawat telah menghubungi saluran bantuan National Health Service (NHS) dari rumah, setelah merasa tak sehat dan mengalami demam pada Senin pagi. Sturgeon mengatakan, ia kemudian dijemput dari rumah oleh ambulans khusus dan segera di bawa ke uni penyakit menular di Gartnavel.

Gejala Ebola memakan waktu hingga 21 hari untuk menunjukkan gejala. Virus Ebola ditularkan melalui cairan tubuh dari orang yang terkena virus. Cairan bisa berasal dari muntahan, pendarahan atau diare.

Belum ada obat untuk Ebola, namun tingkat kelangsungan hidup sekitar 50 persen jika pasien cepat diobati dengan hidrasi, obat anti-malaria dan antibiotik.

Sturgeon sebelumnya telah berbicara dengan Perdana Menteri David Cameron, untuk membahas kasus ini. Kedua pemerintah telah berkomitmen untuk menetapkan tanggap darurat terkait kasus ini. Juru bicara Downing Street mengatakan, Cameron telah menelpon Sturgeon mengenai kasus ini. Ia menekankan pemerintah Inggris menyatakan siap membantu dengan cara apapun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement