Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Boko Haram Resmi Ganti Nama: 'Islamic State West Africa Province'

Senin 27 Apr 2015 07:25 WIB

Red: Angga Indrawan

Para perempuan yang ditawan Boko Haram.

Para perempuan yang ditawan Boko Haram.

Foto: Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, ABUJA -- Kelompok ekstremis Islam Afrika Barat, Boko Haram siap menjadi pijakan baru bagi kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Boko Haram bahkan telah mendeklarasikan nama baru menjadi Islamic State West Africa Province (ISWAP).

Sebulan lalu, pemimpin kelompok teror Nigeria itu, Abu Bakar Shekau telah mengumumkan janji setia kepada ISIS. Namun organisasi teror itu masih beroperasi di bawah nama resminya Jama'atu Ahlis Sunnah wal-Jihad Lidda'awati, yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti "orang yang berkomitmen mengajarkan ajaran Nabi dan jihad".

Sementara itu, nama Boko Haram, merupakan julukan bagi kelompok tersebut yang berarti "pendidikan Barat dilarang". Nama itu telah disemat sejak kelompok itu dibentuk pada 2002 ketika itu adalah fokus utama pendiriannya.

Tapi sekarang, sebagai bahan propaganda, ISWAP telah bersama ISIS berafiliasi di akun media sosial. Hal ini disebut-sebut sebagai alat berhubungan dengan para anggota militan lainnya di Suriah dan Irak.

Dilansir BBC Afrika, Ahad (26/4), penguatan hubungan dengan ISIS berdampak signifikan terhadap kemajuan militer Boko Haram. Kelompok yang perkiraan Amnesti Internasional memiliki sekitar 15.000 anggota itu telah menderita kerugian, namun dapat kembali melakukan penyerangan pada Sabtu (25/6) di pangkalan militer Niger di sebuah pulau di danau Chad.

Niger merupakan anggota dari koalisi regional yang tergabung bersama dengan Chad, Kamerun, Nigeria dan Benin. Koalisi telah berupaya memukul mundur Boko Haram yang banyak menguasai tanah Nigeria.

Boko Haram merupakan organisasi yang disebut-sebut paling mengerikan. Amnesty International mengatakan dalam sebuah laporan pada Selasa (14/4), Boko Haram telah menculik setidaknya 2.000 perempuan dan anak perempuan Nigeria sejak awal 2014.

Bahkan banyak dari mereka yang mengalami pelecehan seksual atau dilatih untuk melawan. Dari dokumen yang berisi kesaksian para korban, didapatkan bahwa para korban penculikan kerap memperkosa, melakukan kawin paksa dan memaksa mereka turut serta dalam serangan bersenjata.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA