Tuesday, 13 Zulqaidah 1440 / 16 July 2019

Tuesday, 13 Zulqaidah 1440 / 16 July 2019

Microsoft Kritik AS Timbun Senjata Siber

Senin 15 May 2017 09:51 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Yudha Manggala P Putra

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyampaikan keterangan pers terkait upaya penanganan serangan dan antisipasi Malware Ransomware WannaCry di Jakarta, Ahad (14/5).

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyampaikan keterangan pers terkait upaya penanganan serangan dan antisipasi Malware Ransomware WannaCry di Jakarta, Ahad (14/5).

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Microsoft Brad Smith menanggapi serangan ransomware WannaCry (WannaCrypt) yang memengaruhi komputer Windows belum lama ini. Ia mengatakan sikap pemerintah yang menimbun senjata siber kini menjadi masalah besar.

Pemerintah perlu mengambil pendekatan sama terhadap senjata siber seperti yang dilakukan pada senjata fisik. Microsoft mengkritik pemerintah karena menimbun eksploitasi rahasia sistem komputer. Ransomware WannaCry saat ini adalah sebuah tamparan besar.

Wanna Crypt sejak Jumat lalu memengaruhi setidaknya 200 ribu komputer di lebih dari 150 negara. Serangan yang bermodus mengunci komputer dengan mengekripsi data ini juga menyerang rumah sakit. Jika ingin bisa mengakses data yang diserang, korban harus mentransfer sejumlah uang dalam bentuk Bitcoin kepada pelaku.

Perangkat lunak WannaCry sangat ganas karena tak selalu mengharuskan pengguna melakukan tindakan apapun, seperti mengklik tautan atau mengunduh data. Perangkat lunak ini bisa menyebar otomatis melalui sistem berbagi dokumen (file-sharing) di jaringan internet. WannaCry memanfaatkan kerentanan pada versi Windows lama yang awalnya ditemukan dan dieksploitasi National Security Agency (NSA) AS sebagai senjata siber ofensif.

"Kami sudah pernah melihat kerentanan yang disimpan CIA muncul di WikiLeaks dan sekarang dicuri NSA kemudian memengaruhi pelanggan di seluruh dunia. Eksploitasi pemerintah telah bocor ke publik dan menyebabkan kerusakan lebih luas. Ini terjadi berulang kali," kata Smith, dilansir dari CNBC, Senin (15/5).

Smith menambahkan Microsoft sebetulnya sudah menerbitkan pembaruan untuk mengatasi kerentangan serangan awal tahun ini. Sayangnya banyak organisasi dan pemilik komputer atau laptop tidak memperbaharui program lama mereka. Smith juga mengatakan Microsoft telah bekerja sepanjang waktu untuk membantu konsumen yang terkena dampak, bahkan sistem operasi perangkat lama yang sudah tidak didukung lagi.

Smith mengatakan serangan yang sama akan muncul lagi, kecuali pemerintah menghentikan kebiasaan menimbun kerentanan semacam ini.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA