Jumat 29 Dec 2017 01:17 WIB

Jumlah Anak Korban Konflik Capai Skala Mengejutkan

UNICEF (ilustrasi)
Foto: unicef.bg
UNICEF (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  NEW YORK -- Perserikatan Bangsa-bangsa (Unicef) memperingatkan bahwa jumlah serangan terhadap anak-anak di zona konflik di seluruh dunia mencapai skala yang mengejutkan pada 2017 ini. Pihak-pihak yang terlibat dalam konflik secara terang-terangan mengabaikan undang-undang internasional yang dirancang untuk melindungi pihak yang palig rentan, dan anak-anak dibunuh, dilukai, direkrut untuk berperang dan digunakan sebagai tameng manusia.

Unicef menyebutkan, kasus pemerkosaan, perkawinan paksa, penculikan dan perbudakan juga menjadi taktik standar dalam konflik yang terjadi di Irak, Suriah, Yaman, Nigeria, Sudan Selatan dan Myanmar. Beberapa anak yang diculik oleh kelompok ekstremis terus mengalami pelecehan saat dibebaskan, saat merekaditahan oleh pasukan keamanan.

"Selain itu jutaan anak lebih menderitakekurangan gizi, penyakit dan trauma. Karena layanan dasar mereka termasuk akses terhadap makanan, air bersih, sanitasi dan kesehatan mereka dihancurkan dalam pertempuran tersebut," kata Unicef, Kamis (28/12).

Dunia tidak dapat menerima tingkat kebrutalan ini sebagai kewajaran baru. Anak-anak menjadi sasaran dan terkena serangan dan kekerasan yang brutal di rumah, sekolah, dan tempat bermain mereka. "Seiring serangan ini berlanjut dari tahun ke tahun, kita tidak bisa menjadi mati rasa," kata Direktur Program Darurat Unicef, Manuel Fontaine.

Dilansir Independent, badan amal tersebut merulis sebuah pernyataan akhir tahun yang merangkum laporan selama tahun 2017, pihaknya menyebut tahun ini sebagai tahun brutal bagi anak-anak yang tertangkap dalam konflik. Laporan tersebut menemukan bahwa hampir 700 anak di Afghanistan tebunuh dalam sembilan bulan pertama di 2017. Sedikitnya 135 anak dipaksa untuk bertindak sebagai pembom bunuh diri pada tahun ini oleh Boko Haram di Nigeria timur laut dan Kamerun.

Sementara di Sudan Selatan terdapat lebih dari 19 ribu anak-anak direkrut menjadi anggota angkatan bersenjata dan kelompok bersenjata, sedangkan lebih dari 2.300 anak-anak terbunuh atau terluka sejak konflik tersebut pertama kali meletus pada Desember2013. Di Yaman, pertempuran selama hampir1.000 hari di sana telah menewaskan atau melukai setidaknya 5.000 anak.

Menurut organisasi tersebut, lebih dari 11 juta anak membutuhkan bantuan kemanusiaan dan lebih dari1,8 juta anak-aanak menderita kekurangan gizi, dengan 385 ribu anak menderita gizi buruk akut dan berisiko meninggal jika tidak segera diobati.

Unicef kemudian meminta semua pihak yang terlibat dalam konflik-konflik tersebut untuk mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional, dengan segera mengakhiri pelanggaran terhadap anak-anak, dan menyasar sarana infrastruktur sipil seperti sekolah dan rumah sakit. Ini juga ditujukan kepada negara-negara yang memiliki pengaruh terhadap pihak-pihak yang berkonflik untuk menggunakan pengaruh tersebut untuk melindungi anak-anak.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement