Jumat 12 Jan 2018 20:09 WIB

PBB Nilai Donald Trump Rasis

Presiden AS Donald Trump
Foto: Bloomberg
Presiden AS Donald Trump

REPUBLIKA.CO.ID,  NEW YORK -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam kalimat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut Haiti, El Salvador dan negara-negara di Afrika penuh masalah. PBB menilai pernyataan yang terlontar dari mulut Trump merupakan hal yang berbau rasisme.

"Itu merupakan komentar yang memalukan dari seorang Presiden Amerika Serikat, tak ada kata lain yang dapat menggambarkan selain 'rasis'," kata Juru Bicara PBB untuk urusan Hak Asasi Manusia (HAM) Rupert Coleville seperti dikutip Independent, Jumat (12/1).

Dia mengatakan, seseorang tentu tidak bisa menyebut suatu negara atau benua dengan kata-kata yang tidak senonoh (s***holes). Dia menegaskan, hanya karena penduduk di kawasan tersebut tidak berkulit putih, bukan berarti mereka tidak bisa diterima.

Menurut Coleville, pernyataan yang diungkapkan Presiden AS itu bukan lagi menyangkut sebuah kata-kata vulgar. Lebih dari itu, kalimat tersebut mendorong dunia pada sesuatu yang lebih buruk yakni rasisme dan ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain yang dianggap asing.

Komentar tidak senonoh itu dilontarkan Trump untuk mengkritik gagalnya program reformasi imigrasi yang dia usung semasa kampanye. Hal itu, dia sampaikan, dalam sebuah pertemuan dengan legislator yang sedang membahas kesepakatan bipartisan tentang imigrasi.

Coleville melanjutkan, komentar Trump kali ini serupa dengan pernyataan dia sebelumnya yang ditujukan kepada orang-orang Meksiko dan Muslim. Proposal kebijakan Trump, dia mengatakan, menargetkan seluruh kelompok atas dasar kewarganegaraan atau agama.

Menurut Coleville, tindakan itu, menujukan keengganan secara nyata untuk mengecam tindakan anti-semit, rasisme dan supremasi kulit putih. Dia menambahkan, kata-kata tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai universal yang sudah susah payah dibangun dunia setelah Perang Dunia II dan Holocaust.

"Komentar itu mungkin menjadi pernyataan paling rusak dan berbahaya yang penah dibuat figur politik besar," katanya seperti dikutip Dailymail.

Mantan Menteri Tenaga Kerja AS era Bill Clinton, Robert Reich bahkan membandingkan Trump dengan gerakan Nazi. Dia mengatakan, dalam akun twitter, bagi Nazi, orang-orang Arya yang paling murni adalah orang-orang Nordik dari Jerman dan Norwegia. Dia menambahkan, dengan menyinggung fakta bahwa orang Norwegia lebih banyak tidak diizinkan masuk ke AS.

Pemerintah Uni Afrika yang mewakili 55 negara di benua tersebut mengaku, terkejut dengan pernyataan Trump. Juru Bicara Uni Afrika Ebba Kalondo mengatakan, melihat kenyataan sejarah dimana banyak warga Afrika yang tiba di AS sebagai budak sehingga pernyataan itu sangat melewati batas.

Kalondo mengatakan, pernyataan yang dibuat Trump sangat mengejutkan mengingat AS merupakan contoh global dari nilai keragaman dan kesempatan yang kuat. Dia melanjutkan, keberagaman dan migrasi tersebut kemudian melahirkan sebuah negara yang kuat.

Trump mengeluarkan pernyataan bernada mencela itu setelah senator dari Partai Demokrat Richard Durbin mengusulkan diakhirinya lotre untuk visa. Sebagai gantinya, Durbin mengatakan, orang-orang yang melarikan diri dari negara-negara yang terkena bencana alam atau perselisihan sipil, termasuk Haiti dan El Salvador akan diizinkan tinggal di AS.

Trump secara khusus mempertanyakan mengapa AS ingin menerima lebih banyak orang dari Haiti dan juga Afrika. "Mengapa kita menginginkan orang-orang dari Afrika di sini? Mereka adalah negara-negara yang bermasalah. Kita harus menerima lebih banyak orang dari Norwegia," kata Trump.

Sementara sejak menduduki kuris di ruang oval, Turmp telah menyudahi status perlindungan sementara (TPS) untuk beberapa kelompok di AS, termasuk Haiti dan Salvadoran. Warga Haiti memenuhi syarat untuk mengikuti program TPS setelah gempa pada 2010 lalu menghancurkan negara kepulauan Karibia yang hingga saat ini belum pulih seutuhnya. Sedangkan, sekitar 200 ribu warga Salvador diberi izin TPS setelah serangkaian gempa mengguncang negara Amerika Tengah pada 2001 lalu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement