Rabu 25 Apr 2018 04:35 WIB

Impian Atallah Jadi Pemain Sepak Bola Pupus di Tangan Israel

Banyak warga Palestina yang ditembak dengan amunisi aktif harus menjalani amputasi.

Bentrokan antara massa aksi Palestina dan militer Israel pada Sabtu (31/3) di Jalur Gaza.
Foto: AP Photo/Adel Hana
Bentrokan antara massa aksi Palestina dan militer Israel pada Sabtu (31/3) di Jalur Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA CITY -- Atallah Fayoumi, remaja 17 tahun dari bagian timur Kota Gaza, takkan pernah bisa mewujudkan impiannya menjadi pemain sepak bola terkenal setelah ia kehilangan satu kaki. Ia kehilangan kakinya dalam protes rakyat Palestina di dekat perbatasan Jalur Gaza-Israel.

Seorang penembak jitu Israel menembak kakinya pada 13 April, Jumat protes ketiga. "Ketika saya ditembak, saya tidak tahu setelah tiga hari, kaki saya akan diamputasi," kata Atallah Fayoumi.

Remaja lelaki tersebut masih dirawat di Departemen Ortopedik di Rumah Sakit Shiffa di Kota Gaza. Perawatannya tertunda ketika ia memerlukan operasi darurat akibat lukanya, sebab Israel menolak memberi dia izin meninggalkan Jalur Gaza dan pergi ke Tepi Barat Sungai Jordan atau ke satu rumah sakit Israel, kata ayah remaja tersebut, Jamil Fayoumi.

Kepala Bagian Operasi di Rumah Sakit Eropa di selatan Jalur Gaza, Sami Abu Sneima mengatakan Atallah bukan satu-satunya kasus kaki diamputasi selama empat pekan terakhir pawai. Banyak orang yang ditembak dengan amunisi aktif harus menjalani amputasi bagian atas atau bawah tubuhnya.

Pekan lalu, anak lelaki yang berusia 11 tahun, Abul Rahman Noufal, ditembak di kaki kirinya dan ia menderita pendarahan parah serta tulangnya remuk. Ibunya mengatakan ia ditembak di kaki cuma gara-gara ia berdiri di dekat perbatasan dan menyaksikan pawai.

Dalam kasusnya, Israel menerima permintaan Kementerian Kesehatan dan setuju memindahkan anak lelaki itu ke satu rumah sakit di Kota Ramallah di Tepi Barat untuk memperoleh perawatan medis yang lebih baik. Namun, karena lukanya, kakinya akhirnya harus diamputasi juga.

Abu Sneima mengatakan mereka berusaha sebaik mungkin menghindari amputasi. Mereka berhasil dalam 60 kasus setelah operasi yang tepat, termasuk saluran darah dan pembersihan luka.

Ia mengatakan kepada Xinhua mengenai kasus seorang perempuan muda, Maryam Abu Matar, dari bagian timur Khan Younis di bagian selatan Jalur Gaza. "Kasus Maryam adalah salah satu kasus yang paling sulit sebab pembuluh darahnya kecil. Kami membuat pembuluh darah penghubung dengan mengganti sepotong nadi dari kaki lain untuk memompa darah," kata Abu Sneima.

Abu Sneima menambahkan dalam kebanyakan kasus, tak adanya aliran darah ke pembuluh darah mengakibatkan keracunan kaki dan kemerosotan kondisi pasien sehingga memaksa dokter mengamputasi kaki tersebut. Juru Bicara Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza, Ashraf Al-Qedra, mengatakan sejak dimulainya pawai pada 30 Maret, 5.000 orang Palestina cedera, termasuk 1.650 orang yang ditembak di bagian bawah tubuh mereka. Sebanyak 19 di antara mereka harus menjalani amputasi bagian tubuh mereka.

"Sejak 30 Maret, militer Israel membunuh 39 orang, termasuk empat anak kecil, selain dua mayat yang masih ditahan oleh Israel," kata Al-Qedra.

Ratusan orang Palestina membanjiri lima daerah berbeda di dekat perbatasan antara bagian timur Jalur Gaza dan Israel untuk berpawai, yang dikenal dengan nama "Pawai Akbar Kepulangan". Protes tersebut direncanakan mencapai puncaknya pada 15 Mei, hari setelah peringatan ke-70 berdirinya negara Israel tapi diperingati oleh rakyat Palestina sebagai Hari Nakba atau Hari Bencana.

Sallah Abdulati, pegiat hak asasi manusia yang berpusat di Jalur Gaza dan salah seorang penyelenggara pawai itu, mengatakan kepada Xinhua tentara Israel telah menggunakan kekuatan yang berlebihan terhadap peserta pawai.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement