Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Sejarah Hari Ini: Ilmuwan Temukan Virus AIDS

Selasa 23 Apr 2019 12:58 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Gambar bagaimana virus AIDS menghancurkan sistem kekebalan tubuh, ilustrasi

Gambar bagaimana virus AIDS menghancurkan sistem kekebalan tubuh, ilustrasi

Vaksin untuk mencegah AIDS tengah dikembangkan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Tepat 23 April 1984, terobosan monumental dalam penelitian medis terjadi. Ilmuwan menemukan virus yang dapat menyebabkan AIDS, penyakit fatal yang melanda Amerika Serikat kala itu.

Baca Juga

Pengembangan diumumkan di Washington oleh Menteri Kesehatan Amerika Serikat (AS) Margaret Heckler. Ia mengatakan, virus itu adalah varian dari virus kanker manusia yang dikenal dengan sebutan HTLV-3.  

Tes darah juga telah dikembangkan, yang akan tersedia dalam waktu enam bulan. Hal itu berguna untuk mencegah tragedi pasien transfusi yang tertular penyakit melalui produk darah yang tercemar.

Heckler juga memprediksi bahwa vaksin untuk mencegah AIDS siap untuk diuji dalam waktu dua tahun. "Penemuan hari ini mewakili kemenangan sains atas penyakit yang ditakuti," katanya dilansir BBC History, Selasa (23/4).

Aids, atau Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan penyakit yang melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga membuat para korban terbuka terhadap serangkaian penyakit. Orang-orang yang lebih berisiko tertular Aids termasuk di antaranya homoseksual, hemofilia, pengguna narkoba dan mereka yang telah menerima transfusi darah.

Penyakit tersebut telah menyebabkan kepanikan yang meluas di AS, di mana 4.000 orang telah terinfeksi sejak penyakit ini ditemukan pada 1981. Hampir setengahnya telah meninggal.

Temuan di AS juga hampir mirip dengan penemuan di Prancis pekan sebelumnya dari virus yang disebut LAV, meskipun para peneliti Prancis tidak mengatakan bahwa itu pasti yang menyebabkan AIDS.

Reaksi terhadap berita di antara para korban adalah filosofis. Bob Scheckey telah hidup dengan penyakit itu selama dua tahun atau jauh lebih lama dari perkiraan dokternya. Dia menyambut berita dari Washington, namun ia mengatakan kemungkinan vaksin terlalu jauh untuk menawarkan kenyamanan. "Saya bekerja dengan orang-orang dengan AIDS setiap hari," katanya.

"Mendengar ada kemungkinan vaksin yang bisa keluar dalam dua atau tiga tahun bukanlah kabar baik bagi orang-orang ini. Sebagian besar orang yang bekerja dengan kita sekarang akan mati pada saat itu," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA