Minggu, 19 Jumadil Akhir 1440 / 24 Februari 2019

Minggu, 19 Jumadil Akhir 1440 / 24 Februari 2019

Nasrallah Tolak Tudingan Liga Arab Kirim Rudal ke Houthi

Selasa 21 Nov 2017 07:25 WIB

Rep: Marniati/ Red: Budi Raharjo

Sayed Hasan Nasrallah

Sayed Hasan Nasrallah

Foto: futurodelmundo

REPUBLIKA.CO.ID,BEIRUT -- Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah menolak klaim yang disampaikan oleh menteri luar negeri Arab tentang Hizbullah. Pejabat Arab mengatakan kelompok Lebanon tersebut mempersenjatai pemberontak di Yaman.

Dilansir dari Aljazirah, Selasa (21/11), dalam sebuah pidato di televisi pada Senin dari Beirut, Nasrallah, yang kelompoknya diwakili di parlemen Lebanon dan memiliki sayap militer yang kuat, menyebut klaim yang dibuat pada pertemuan Liga Arab merupakan pernyataan yang "konyol".

Hal ini mengacu pada sebuah paragraf akhir yang dibuat setelah pertemuan di Kairo, yang menuduh Hizbullah mendukung terorisme dan kelompok ekstremis di negara-negara Arab dengan senjata canggih dan rudal balistik. Nasrallah mengatakan tidak ada bukti untuk klaim tersebut.

Arab Saudi telah menuduh Hizbullah memainkan peran dalam penembakan rudal balistik 4 November oleh pemberontak Houthi yang bermarkas di Iran menuju Bandara Internasional Raja Khaled di luar Riyadh. "Kami belum mengirim rudal balistik atau senjata canggih - bahkan senjata api - bukan ke Yaman, bukan ke Bahrain, bukan ke Kuwait, bukan ke Irak atau negara Arab manapun," kata Nasrallah.

Menurutnya, Hizbullah tidak memiliki rudal balistik. Hizbullah hanya mengirim senjata ke Palestina dan Suriah. Pidato Nasrallah terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran - sekutu Hizbullah - dan Arab Saudi sejak pengunduran diri Saad Hariri di Riyadh sebagai perdana menteri Lebanon.

KTT khusus di ibukota Mesir pada Ahad dilaksanakan atas permintaan Arab Saudi untuk membahas dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Iran di wilayah Arab.

Pada pertemuan tersebut menteri luar negeri Saudi,Adel al-Jubeirmengatakan Iran memiliki tujuan untuk mengacaukan dan memicu perpecahan sektarian di wilayah Arab dan mendorong perselisihan antara pemimpin dan rakyatnya .

Menteri luar negeri Bahrain, Khalid bin Ahmed Al Khalifa, menuduh Iran memberikan banyak penderitaan di negaranya. "Iran memiliki senjata di wilayah tersebut, yang terbesar adalah Hizbullah," kata Khalid bin Ahmed.

Ia mengatakan Iran mengancam keamanan negara-negara Arab.

Mengacu pada insiden rudal 4 November di dekat Riyadh, Nasrallah mengaku telah membicarakan hal ini dengan Hizbullah. Namun tidak seorang pun dari Hizbullah memiliki tanggung jawab dalam masalah ini. "Masalahnya dengan Arab Saudi adalah mereka tidak mengerti bahwa orang Yaman memiliki otak dan kuat dan bisa menghasilkan senjata mereka sendiri," katanya.

Meskipun melakukan serangan militer di Yaman selama lebih dari dua tahun, koalisi Saudi sejauh ini gagal mencapai tujuannya untuk menaklukan pemberontak Houthi dari ibu kota, Sanaa, dan utara negara tersebut.

Perang telah membawa banyak korban di negara ini. Lebih dari 10 ribu warga sipil terbunuh dan jutaan orang Yaman hidup dalam kemiskinan.

Adapun dalam konteks perang yang sedang berlangsung melawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Nasrallah mengatakan era kelompok bersenjata tersebut akan berakhir saat militannya dipindahkan dari kota perbatasan al-Bukamal di Suriah. "Ini tidak berarti ISIS sudah selesai, tapi infrastruktur ISIS sudah selesai," katanya.

Nasrallah, yang pejuangnya memerangi kelompok anti-pemerintah di Suriah, mengaku bersedia menarik Hizbullah keluar dari negara tetangga Irak setelah pemerintah pusat mengumumkan kemenangan atas ISIS di negara tersebut.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA