Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

Lebanon Minta Saudi dan Iran Berdialog

Ahad 26 Nov 2017 19:56 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Konflik di Yaman, menyebabkan keamanan menjadi barang mahal.

Konflik di Yaman, menyebabkan keamanan menjadi barang mahal.

Foto: Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Politikus senior beragama Druze di Lebanon Walid Jumblatt, pada Sabtu (25/11), meminta Arab Saudi menjalin komunikasi dengan Iran. Ia menilai, penyelesaian perselisihan antara Saudi dan Iran akan membantu Lebanon tetap berada di luar konflik regional.

"Sebuah penyelesaian minimal dengan Republik Islam (Iran) memberi kita kekuatan dan tekad lebih kuat untuk bekerja sama dalam menegakkan kebijakan disasosiasi," ujar Jumblatt melalui akun Twitter pribadinya.

Disasosiasi dipahami secara luas di Lebanon sebagai penerapan kebijakan untuk tetap menjaga negara tersebut di luar konflik regional. Hal ini pula yang ditekankan Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri ketika mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya pada awal November lalu. Hariri menyinggung perihal Hizbullah yang peran militernya menjadi sumber kekhawatiran Saudi.

Selain menyerukan tentang perlunya Iran dan Saudi untuk berkomunikasi, Jumblatt pun menyinggung perihal prose smodernisasi yang tengah dikerjakan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman. Ia menilai, proses tersebut tak akan berjalan bila Saudi masih terlibat konfrontasi di Yaman, tepatnya dengan milisi Houthi.

Tantangannya sangat besar dan modernisasi Kerajaan (Arab Saudi) adalah kebutuhan Islam dan negara Arab. "Namun misi ini tidak dapat berhasil saat perang Yaman berlanjut," ujar Jumblatt.

Ia menilai, perang di Yaman akan sangat sulit diakhiri kecuali jika hal ini didiskusikan serta dibahas penyelesaiannya oleh Saudi dan Iran. Saat ini, pasukan koalisi pimpinan Saudi memang masih terlibat konfrontasi dengan milisi Houthi Yaman.

Pasukan koalisi Saudi telah mengincar gerakan Houthi yang sejalan dengan Iran sejak 2015. Perang antara pasukan Saudi dengan Houthi telah menyeret Yaman ke dalam krisis kemanusiaan. Ratusan ribu warganya dilaporkan terserang wabah kolera dan sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Kendati demikian, pasokan bantuan kemanusiaan ke Yaman sulit dilakukan karena pasukan koalisi Saudi memblokade pelabuhan dan bandara di negara tersebut. Kondisi ini pun ditegaskan Jumblatt kepada Pangeran Mohammed. Ia menilai Yaman sudah cukup mengalami penderitaan dan meminta Pangeran Mohammed segera menuntaskan konflik di negara tersebut.

"Biarkan rakyat Yaman memilih siapa yang dinginkannya. Dan Anda, Yang Mulia Pangeran (Mohammed), jadilah hakim, pembaharu, dan kakak laki-laki seperti nenek moyang Anda," ujar Jumblatt.

 

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB