Senin 19 Feb 2018 08:03 WIB

Turki Bantah Gunakan Senjata Kimia di Suriah

Turki membantah rumor menggunakan senjata kimia dalam operasi militernya di Suriah.

Pasukan Turki dan milisi Suriah pro-Turki mencoba mengambil alih bukit Bursayah yang memisahkan Afrin yang dikuasai Kurdi dengan Kota Azaz, Suriah yang dikuasai Turki, 28 Januari 2018. Hampir sebulan operasi militer Turki berlangsung di Afrin.
Foto: AP Photo
Pasukan Turki dan milisi Suriah pro-Turki mencoba mengambil alih bukit Bursayah yang memisahkan Afrin yang dikuasai Kurdi dengan Kota Azaz, Suriah yang dikuasai Turki, 28 Januari 2018. Hampir sebulan operasi militer Turki berlangsung di Afrin.

REPUBLIKA.CO.ID, MUNCHEN -- Pemerintah Turki membantah rumor yang menyebut bahwa pihaknya menggunakan senjata kimia dalam operasi militernya di Suriah.Sebaliknya, Turki mengklaim operasi tersebut sepenuhnya mengincar kelompokteroris dan tidak menargetkan warga sipil.

"Ini hanya cerita palsu (penggunaan senjata kimia di Suriah). Turki tidak pernah menggunakan senjata kimia apapun," kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu kepada awak media di sela-sela acara Munich Security Conference di Jerman, Ahad (18/2).

Menurut Cavusoglu, rumor penggunaan senjata kimia oleh Turki hanya sebuah propaganda oleh organisasi yang dekat dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK). PKK merupakan salah satu kelompok yang diincar Turki dalam operasi militernya di Suriah. Kelompok ini terlarang di Turki karena dianggap telah melakukan pemberontakan selama tiga dekade terakhir.

Cavusoglu mengklaim Turki sangat memedulikan dan berhati-hati untuk melindungi warga sipil Suriah di tengah operasi militer yangberlangsung di sana. Sebaliknya, ia menuding kelompok teroris yang diburunya memanfaatkan warga sipil sebagai perisai di bawah wilayah yang dikendalikannya.

Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat (AS) juga telah angkat bicara perihal kabar penggunaan senjata kimia oleh militer Turki dalam operasinya di Suriah. "Kami menilai sangat tidak mungkin pasukan Turki menggunakan senjata kimia. Kami terus meminta pengekangan dan perlindungan warga sipil di Afrin," ujar juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS.

Birusk Hasaka, juru bicara kelompok YPG (Perlindungan RakyatSuriah) Kurdi di Afrin mengatakan, pasukan Turki melakukan pemboman dan serangan ke sebuah desa di barat laut wilayah tersebut. Serangan tersebut, kata Hasaka, menyebabkan enam orang menderita masalah pernapasan dan gejala lainnya mengindikasikan adanya serangan gas.

Hal ini pun dikonfirmasi oleh Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia. Kelompok pemantau perang yang berbasis di Inggris ini mengatakan serangan pasukan Turki terhadap sebuah desa di Afrin terjadi pada Jumat (16/2). Menurut mereka, sumber medis di Afrin melaporkan bahwa enam orang korban dalam serangan tersebut mengalami kesulitan bernapas dan pupil mata melebar. Hal ini yang kemudian memunculkan dugaan bahwa militer Turki menggunakan senjata kimia dalam operasinya di Afrin.

Pertengahan Januari lalu, Turki memulai operasi militer diwilayah Afrin, Suriah. Turki mengklaim operasi ini dilakukan untuk menumpas kelompok teroris dan milisi Kurdi yang mendiami wilayah tersebut. Adapun kelompoknya antara lain PKK, YPG, KCK (PersatuanKomunitas Kurdistan) dan PYD (Partai Persatuan Demokratik Suriah).

Reuters

Kamran Dikarma

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement