Jumat 23 Mar 2018 05:40 WIB

Qatar Buat Daftar Teroris Baru

Dua warga Qatar yang diduga penyandang dana Nusra Front masuk dalam daftar.

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Ani Nursalikah
Warga Qatar menikmati berjalan-jalan di pinggir laut di Doha.
Foto: AP Photo/Kamran Jebreili
Warga Qatar menikmati berjalan-jalan di pinggir laut di Doha.

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Qatar membuat daftar teroris baru dengan memasukkan 28 individu dan institusi ke dalamnya, termasuk beberapa warga Qatar yang sudah tercantum dalam daftar hitam Arab Saudi, Kamis (22/3).

Qatar membuat daftar teroris baru berdasarkan beberapa orang terduga yang diidentifikasi pada Oktober 2017. Daftar itu secara resmi dipublikasikan di laman Komite Antiterorisme Nasional Qatar dimana di dalamnya terdapat beberapa individu yang dianggap rival dan mengecualikan tokoh-tokoh Islam arus utama.

Langkah ini membuat daftar hitam Qatar lebih seiring dengan daftar serupa yang dibuat Saudi, meski motivasi publikasi daftar itu sendiri masib belum jelas. Sayangnya, juru bicara Pemerintah Qatar tak merespons permintaan tanggapan yang diajukan.

Empat negara Arab yang dijuluki Kuartet Antiteror mempertahankan 72 nama dan organisasi yang punya kaitan ke Qatar. Dalam daftar teroris baru yang diliris Qatar, ada dua warga Qatar yang diduga menjadi penyandang dana kelompok militan Nusra Front di Suriah. Meskipun identitas kelompok ini tidak diuraikan jelas.

Daftar itu tidak memuat Persatuan Internasional Ulama Muslim yang berbasis di Qatar. Lembaga itu dibentuk pada 2004 sebagian besarnya oleh ulama yang terafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan diketuai Syekh Yusuf al-Qaradawi. Persatuan Internasional Ulama Muslim yang berbasis di Qatar dan Syekh Yusuf al-Qaradawi sendiri masuk dalam daftar hitam rival-rival Qatar.

Menteri Luar Negeri UEA Anwar Gargash bercicit di Twitter. ''Terlepas dari kesulitan yang dihadapi, Qatar menunjukkan perlawanan terhadap terorisme tapi tetap mendukung gerakan ekstremis yang jadi inti persoalan,'' tulis Gargash.

Qatar mendata 13 anggota Alqaidah dan ISIS pada Oktober 2017 dalam aksi bersama AS dan lima negara Kawasan Teluk lainnya. AS, yang memiliki pangkalan militer udara di Qatar, sudah memberi sinyal ikut menyelesaikan persoalan antara Qatar dengan negara-negara Kawasan Teluk lainnya.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir menjatuhkan sanksi perjalanan, diplomasi, dan perdagangan terhadap Qatar pada Juni 2017 lalu. Sebab, Qatar dianggap membiayai terorisme, ikut campur urusan negara-negara Arab, dan memberi dukungan terhadap Iran yang merupakan rival negara-negara Kawasan Teluk. Qatar menyebut tuduhan ini tidak mendasar.

Meski di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyebut Qatar membiayai kegiatan terorisme di masa lalu dengan intensitas yang tinggi. Trump berterima kasih pemimpin Qatar mau membuat perlawanan terhadap terorisme.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement