Jumat 18 May 2018 17:38 WIB

PBB: Sanksi Sepihak Berdampak Negatif Bagi Rakyat Suriah

Ahli PBB HAM menyelidiki dampak sanksi sepihak terhadap rakyat Suriah

Seorang anak yang keluar dari tempat pengungsian yang tidak layak di Idlib, Suriah
Foto: The Guardian
Seorang anak yang keluar dari tempat pengungsian yang tidak layak di Idlib, Suriah

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS -- Seorang ahli hak asasi manusia (HAM) PBB pada Kamis (17/5) mengatakan di Ibu Kota Suriah, Damaskus, sanksi asing yang dijatuhkan atas Suriah adalah hukuman kolektif yang ditujukan kepada kehidupan rakyat Suriah. Di dalam satu taklimat yang diselenggarakan di Damaskus, Idriss Jazairy mengatakan sanksi asing atas Suriah telah memiliki dampak yang menghancurkan pada seluruh ekonomi dan kehidupan sehari-hari rakyat.

Ia menyatakan sanksi itu adalah sepihak dan berkaitan dengan akibat negatif konflik bersenjata, dan mengatakan, "Sulit untuk memisahkan dampak tindakan paksa sepihak dengan dampak negatif konflik bersenjata pada masyarakat."

Ahli PBB itu datang ke Suriah baru-baru ini untuk menyelidiki dampak sanksi sepihak pada hak asasi manusia. Ia mengatakan proses mengenai cara menghapuskan atau mengendalikan dampak negatif sanksi memerlukan waktu.

"Proses tersebut, yang sekarang terlibat, memerlukan kesabaran dan kepercayaan dan keberlanjutan untuk mengatasi kondisi negatif ini, yang telah mempengaruhi kebanyakan warga --yang tak memiliki kaitan dengan politik atau masalah internasional dan orang ini membayar harga untuk sesuatu yang tidak mereka lakukan," katanya.

Selama tujuh tahun belakangan konflik di Suriah, negeri itu dihantam beberapa babak sanksi Barat atas Pemerintah Suriah, demikian laporan Xinhua, Jumat (17/5). Sanksi tersebut mempengaruhi beberapa sektor penting di masyarakat, terutama sektor ekonomi --yang secara negatif telah kembali mengikat kehidupan rakyat Suriah.

Pengakuan oleh ahli hak asasi manusia PBB itu adalah yang pertama bagi sanksi asing yang dijatuhkan selama konflik berkepanjangan di negeri tersebut. Sementara itu Presiden Suriah Bashar al-Assad bertemu dengan timpalannya dari Rusia Vladimir Putin di Kota Sochi, Rusia, pada Kamis dan mengatakan itu adalah kesempatan bagi pembicaraan perdamaian pada masa depan, kata kantor media Presiden Suriah tersebut.

Bashar mengatakan pertemuan itu pada pembukaan Pertemuan Puncak Sochi adalah "kesempatan untuk memajukan pandangan timbal-balik bagi tahap selanjutnya pembicaraan perdamaian baik di Astana (Kazakhstan) maupun di Sochi".

Menurut laporan tersebut, Putin telah mengucapkan selamat kepada Bashar atas "prestasi besar" yang dicapai oleh militer Suriah dalam perang melawan terorisme. Ia menyatakan keberhasilan militer telah menciptakan kondisi yang cocok bagi dilanjutkannya proses politik.

Putin mengatakan sasaran timbal-balik itu ialah pembangunan kembali ekonomi Suriah dan penyediaan bantuan kemanusiaan. Ia mengatakan pemerintahnya mengadakan kontak dengan semua pihak terkait bagi 'proses politik rumit', termasuk PBB.

Kunjungan Bashar ke Sochi adalah yang kedua. Pada November lalu, Presiden Suriah itu bertemu dengan Putin di Sochi dan memuji dukungan Rusia buat Suriah.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement