Jumat 19 Oct 2018 11:05 WIB

Ini Artikel Khashoggi Terakhir, Kritik Kebebasan Pers Arab

Dunia Arab menghadapi versi Tirai Besinya tersendiri.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah
Jamal Khashoggi
Foto: EPA-EFE/Ali Haider
Jamal Khashoggi

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Surat Kabar Washington Post pada Rabu (18/10) menerbitkan artikel terbaru yang ditulis oleh jurnalis Saudi Jamal Khasoggi. Naskah tersebut diperoleh surat kabar WP sehari setelah Khasoggi dinyatakan menghilang di Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober.

Editor kolom Opini Global, Karen Attitah menerima naskah Khasoggi dari asistennya. Dalam artikelnya, Khasoggi mengkirtik komunitas internasional sebab mengabaikan pelanggaran yang tengah berlangsung oleh pemerintahan di Timur Tengah. Artikel tersebut berjudul "What The Arab World Needs Most Is Free Expression".

Khashoggi membahas dan mengkritik pemerintahan pada negara-negara di Timur Tengah yang kerap membungkam kebebasan pers. Menurutnya, tindakan memenjarakan jurnalis dan merebut kontrol media massa tidak lagi berimbas positif dari masyarakat internasional.

"Sebaliknya, tindakan-tindakan tersebut dapat memicu kecaman seraya menimbulkan kebisuan. Akibatnya pemerintah (negara-negara) Timur Tengah diberi kebebasan untuk membungkam media," tulis Khasoggi di kolomnya seperti dikutip laman Washington Post, Jumat.

Baca juga, Asosiasi Media Turki-Arab Yakin Khashoggi Dibunuh.

"Dunia Arab menghadapi versi Tirai Besinya sendiri yang dipaksakan bukan oleh aktor eksternal tetapi melalui kekuatan domestik yang berlomba merebut kekuasaan," tambah Khasoggi.

Artikel Khasoggi diterbitkan saat penyelidikan terhadap kasus pembunuhannya masih berjalan. Sementara itu, tekanan internasional untuk memberikan sanksi kepada Arab Saudi semakin kuat dari hari ke hari.

Amerika Serikat (AS) dan Jerman meminta untuk menghentikan pengiriman senjata ke kerajaan. Selain itu semakin banyak pejabat tinggi dan pengusaha mengumumkan niat mereka untuk tidak menghadiri konferensi investor pekan depan di Arab Saudi.

Human Rights Watch (HRW) juga telah mengadakan konferensi pers di markas besar PBB di New York kemarin, guna menyerukan penyelidikan internasional. Pejabat HRW  menuduh kerajaan memiliki andil dalam kasus ini.

Kendati demikian, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan negaranya tidak mungkin terburu-buru memutuskan hubungan diplomasi dengan Arab Saudi tanpa fakta kuat terkait kasus dugaan pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi.

Putin mempertanyakan, mengapa harus memutuskan hubungan diplomatik itu. Tidak mungkin Rusia akan merusak hubungan baik yang selama ini sudah terjalin dengan ‘pelayan dua kota suci' itu.

Meskipun, Putin mengakui kasus hilangnya Khashoggi merupakan perkara yang sangat disayangkan. ”Tapi kita harus tetap memahami apa yang sesungguhnya terjadi,” kata dia seperti dilansir Alarabiya, Jumat (19/10).

Secara terpisah, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, Arab Saudi bisa dijatuhkan sanksi berat apabila para pemimpinnya terbukti sebagai otak pembunuhan jurnalis Jamal Khasoggi. Hal itu dikatakan Trump usai mengetahui investigasi oleh Menteri Luar Negeri-nya Mike Pompeo usai ke Riyadh dan Ankara.

"Ya itu akan sangat parah. Maksud saya, itu sangat buruk, itu hal buruk jika terbukti benar para pemimpin Saudi juga terlibat. Tetapi kita akan lihat apa yang terjadi," ujar Trump seperti dikutip laman Guardian, Jumat (19/10).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement