Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

Wartawan Hingga Pemenang Nobel: Usut Kematian Khashoggi

Ahad 21 Oct 2018 08:59 WIB

Rep: Fira Nursyabani/ Red: Nidia Zuraya

Jamal Khashoggi

Jamal Khashoggi

Foto: Instagram/@jkhashoggi
Otoritas Turki mengatakan tidak akan menutup-nutupi kasus pembunuhan Khashoggi

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Sejumlah pengunjuk rasa yang terdiri dari teman-teman dan kolega sesama wartawan Jamal Khashoggi terlihat berkumpul di depan gedung Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada Sabtu (20/10). Mereka menuntut agar kasus kematian Khashoggi dua pekan lalu dapat segera diusut tuntas.

"Kami ingin pembunuh Jamal dihukum ... dan hukuman juga harus diberikan untuk otoritas yang memberi perintah," ujar Presiden Asosiasi Media Turki Arab, Turankislakci.

Wakil pemimpin partai yang berkuasa di Turki, Numan Kurtulmus, turut bersumpah bahwa Turki tidak akan pernah menutup-nutupi kasus pembunuhan itu. “Kami belum menyalahkan siapa pun. Tetapi kami tidak akan membiarkan kasus ini terkubur,” kata dia.

Secara terpisah, seorang pejabat senior Turki mengatakan mereka sudah mendekati bukti untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Khashoggi. Polisi sedang melakukan pencarian di hutan Belgrad, di utara Istanbul, dan di lahan pertanian dekat Yalova.

Pencarian dilakukan setelah mereka mempelajari rekaman CCTV untuk melacak dua kendaraan milik konsulat Saudi setelah Khashoggi terbunuh. "Hati berduka, mata berkaca-kaca, dan dengan perpisahan ini, kami sedih, Jamal sayang," tulis tunangan Khashoggi, Hatice Cengiz, di akun Twitter pribadinya.

Tawakkol Karman, pemenang hadiah Nobel Perdamaian di Yaman, ikut menyampaikan rasa dukanya. “Secara pribadi saya kehilangan seorang teman dan penasihat. Tetapi dunia telah kehilangan suara penting dan Arab Spring salah satu suara terpentingnya," kata Karman kepada The Guardian.

“Arab Saudi ingin membungkam dia selamanya, tetapi dia telah menjadi ikon internasional untuk kebebasan berekspresi. Kejahatan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Menumpahkan darahnya hanya akan membuat kasus ini lebih kuat dalam melawan kekejaman dan penindasan Arab Saudi," tambah dia.

Dalam sebuah pernyataan, chief executive Washington Post, Fred Ryan, mengatakan Arab Saudi telah melakukan suatu hal yang memalukan dan berulang kali menyampaikan kebohongan. Ia mengecam kekejaman yang tampaknya telah diarahkan oleh pejabat tingkat tertinggi pemerintah mereka.

"Tidak menawarkan bukti, dan bertentangan dengan semua bukti yang tersedia, mereka sekarang mengharapkan dunia untuk percaya bahwa Jamal meninggal dalam sebuah pertarungan setelah diskusi. Ini bukan penjelasan; ini adalah penutup," kata Ryan.

Di PBB, seorang juru bicara mengatakan Sekretaris Jenderal António Guterres sangat terganggu dengan kasus ini dan menekankan perlunya investigasi yang cepat, menyeluruh, transparan serta dengan akuntabilitas penuh bagi mereka yang bertanggung jawab. Di luar lingkaran pemerintah, Amnesty International juga menyerukan adanya penyelidikan yang tidak memihak dan independen oleh PBB.

Setelah lebih dari dua minggu menyangkal terlibat dalam kasus Khashoggi, Arab Saudi akhirnya mengeluarkan pernyataan yang disampaikan oleh kantor berita negara pada dini hari, Sabtu (20/10). Arab Saudi mengakui Khashoggi meninggal dalam sebuah perkelahian di dalam konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu.

Pernyataan itu juga mengatakan, 18 orang telah ditangkap sehubungan dengan kasus ini dan dua pejabat senior, yang merupakan orang kepercayaan Putra Mahkota Mohammad Bin Salman, telah dipecat. Tubuh Khashoggi kemudian dibuang oleh kolaborator lokal.

Namun media Turki telah membocorkan rekaman suara yang dimiliki penyidik Turki yang menunjukkan Khashoggi disiksa dan dibunuh, kemudian dipotong-potong dengan gergaji tulang. Penyidik menuduh 15 orang pelaku telah sengaja dikirim untuk membunuh Khashoggi.

Mereka tiba di Istanbul dari Riyadh dengan menggunakan jet yang dimiliki oleh keluarga kerajaan Saudi. Beberapa tersangka - termasuk anggota tim keamanan putra mahkota Mohammed bin Salman dan ahli forensik - tertangkap kamera keamanan memasuki gedung konsulat pada hari Khashoggi meninggal.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB