Sunday, 19 Jumadil Akhir 1440 / 24 February 2019

Sunday, 19 Jumadil Akhir 1440 / 24 February 2019

Pengungsi Suriah di Lebanon Terjerat Utang untuk Tetap Hidup

Kamis 27 Dec 2018 15:57 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Nur Aini

 Pengungsi Suriah bersiap meninggalkan negaranya untuk mencapai Arsal, kota perbatasan Lebanon Kamis (28/6).

Pengungsi Suriah bersiap meninggalkan negaranya untuk mencapai Arsal, kota perbatasan Lebanon Kamis (28/6).

Foto: AP Photo/Bilal Hussein
Anak pengungsi dinikahkan paksa demi melunasi utang.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Ribuan pengungsi Suriah di Lebanon terjerat utang saat mereka tengah berjuang untuk bertahan hidup. Tahun ini menjadi tahun terburuk karena banyak dari mereka rela menikahkan anak mereka secara paksa demi melunasi utang.

Penelitian yang dilakukan oleh badan pengungsi PBB (UNHCR), Program Pangan Dunia (WFP), dan dana anak-anak PBB (UNICEF) menyatakan rata-rata utang rumah tangga para pengungsi telah meningkat dalam tiga tahun terakhir. Utang mereka tercatat rata-rata sebesar 800 dolar AS pada 2016 dan menjadi lebih dari 1.000 dolar AS pada 2018.

Konflik Suriah yang meletus pada 2011 telah menghasilkan 5,6 juta pengungsi di Timur Tengah. Lebanon menampung lebih dari 950 ribu pengungsi yang terdaftar di UNHCR.

Saat para pengungsi berjuang untuk membeli makanan, membayar sewa, dan mendapatkan obat-obatan, angka pernikahan anak juga semakin meningkat. Sebanyak 29 persen gadis Suriah yang berusia antara 15 hingga 19 tahun telah menikah di Lebanon, dan jumlah itu terus bertambah.

“Temuan ini mengingatkan kita semua bahwa situasi bagi anak-anak menjadi lebih rumit. Kami melihat keluarga pengungsi berperilaku yang menempatkan anak-anak mereka pada risiko yang semakin berbahaya," kata Tanya Chapuizat, Perwakilan UNICEF.

Sekitar 69 persen keluarga pengungsi Suriah di Lebanon hidup di bawah garis kemiskinan. Hampir delapan dari 10 anak-anak Suriah berusia 3 tahun hingga 5 tahun dan 15 hingga 17 tahun tidak bersekolah.

Banyak anak terpaksa bekerja karena tidak mampu mengeluarkan biaya transportasi atau kekurangan persediaan yang mereka butuhkan untuk bersekolah. Menurut penelitian Dewan Pengungsi Denmark (DRC), proporsi pengungsi anak-anak Suriah yang bekerja di Lebanon telah meningkat menjadi 7 persen dari 4 persen pada akhir 2016.

Kondisi tempat tinggal mereka juga memburuk. Sebanyak 34 persen pengungsi tinggal di bangunan non-perumahan atau non-permanen. Angka itu meningkat dari 26 persen pada 2017

"Studi ini adalah pengingat dari rintangan sehari-hari yang harus dilalui pengungsi hanya untuk bertahan hidup," kata Perwakilan UNHCR di Lebanon, Mireille Girard, dalam laporan tersebut.

Baca: Donald Trump Pertahankan Pasukan Militer AS di Irak

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA