Senin, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019

Senin, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019

Kanada Terima Suaka Al-qunun

Sabtu 12 Jan 2019 13:31 WIB

Rep: Fergi nadira/ Red: Dwi Murdaningsih

Rahaf Mohammed al-Qunun

Rahaf Mohammed al-Qunun

Foto: Aljazirah
Keputusan Tradeu diprediksi akan memperburuk hubungan Kanada dengan Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, TORONTO - Perdana Menteri Kanada Justin Tredeau menyatakan menerima suaka bagi remaja putri asal Saudi yang melarikan diri dari keluarganya, Rahaf Mohammed Al-Qunun (18 tahun) pada Jumat (11/1) waktu setempat. Pejabat Thailand mengumumkan bahwa Qunun tengah dalam perjalanan ke Toronto.

Sebelum PM Tradeu menyatakan menerima suaka, Qunun ditetapkan menerima suaka di Australia yang merupakan tujuan utama Qunun mencari suaka. Namun Agensi Pengungsi perserikatan bangsa-bangsa (UNCHR) meminta dia ditempatkan di Kanada.

"Kanada adalah negara yang memahami betapa pentingnya membela hak asasi manusia (HAM) dan hak-hak perempuan di seluruh dunia, dan saya dapat mengkonfirmasi bahwa kami telah menerima permintaan PBB," ujarnya kepada wartawan seperti dikutip kantor berita Reuters, Sabtu (12/1).

Keputusan Tradeu tersebut diprediksi akan memperburuk hubungan Kanada  dengan Saudi. Tahun lalu Saudi mengusir duta besar Kanada untuk Riyadh setelah Ottawa mengkritik otoritas Saudi soal penahanan aktivis perempuan Saudi.

Kasus Qunun Dorong Perlawanan Sistem Perwalian Pria di Saudi

"Sekali lagi, Kanada sangat yakin bahwa kami akan selalu membela hak asasi manusia dan hak-hak perempuan di seluruh dunia," katanya

Penerbangan Korean Air membawa Qunun meninggalkan Bangkok ke Seoul pada Jumat malam pukul 11:37 malam waktu setempat. Qunun akan naik penerbangan lanjutan ke Toronto dari bandara Incheon Seoul. Kemungkinan dia tiba di Kanada pada Sabtu pagi.

UNHCR menyambut keputusan Kanada dan mengakui Thailand telah memberikan perlindungan sementara kepada Qunun. "Nasib al-Qunun telah menarik perhatian dunia selama beberapa hari terakhir, memberikan pandangan sekilas tentang situasi genting jutaan pengungsi di seluruh dunia," ujar Komisaris Tinggi Pengungsi UNCHR Filippo Grandi dalam sebuah pernyataan yang diterima Reuters.

Qunun yang mendapatkan perhatian internasional sebab membarikade dirinya di kamar hotel di bandara Bangkok, Thailand sebab menolak kembali ke keluarganya. Dia mengaku mendapatkan ancaman dari keluarganya karena keluar dari agama Islam.

Qunun tiba di bandara Suvarnabhumi, Bangkok pada Sabtu pekan lalu yang ditolak masuk. Kemudian dia mencuitkan melalui twitter ia telah melarikan diri dari keluarganya di Kuwait sebab hidupnya dalam bahaya jika terpaksa kembali. Setelah 48 jam di bandara Bangkok, ia diizinkan memasuki Thailand dan kemudian diproses sebagai pengungsi oleh UNHCR.

Qunun menuduh keluarganya melakukan pelecehan dan kekerasan sebab murtad. Dia menolak menemui ayah dan saudara lelakinya yang tiba di Bangkok untuk mencoba membawanya kembali ke Arab Saudi.

"Ke Kanada adalah pilihannya. Dia masih menolak untuk bertemu dengan ayah dan kakaknya, dan mereka akan melakukan perjalanan kembali malam ini juga, mereka sangat kecewa," ujar Kepala imigrasi Thailand Surachate Hakparn.

Kasus Qunun juga muncul saat Riyadh menghadapi pengawasan ketat luar biasa dari sekutu Barat atas pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul pada Oktober 2018. Selain itu Riyadh juga tengah bergejolak atas konsekuensi kemanusiaan dari perangnya di Yaman. Kanada telah berulang kali mengatakan pembunuhan Khashoggi tidak dapat diterima dan menuntut penjelasan lengkap dari Saudi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA