Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

Ini Mengapa Pengikut Wanita Harun Yahya Berwajah Serupa

Selasa 12 Feb 2019 11:45 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Adnan Oktar atau juga dikenal Harun Yahya.

Adnan Oktar atau juga dikenal Harun Yahya.

Foto: Twitter
Adnan Oktar dinilai hidup di kelab malam kelas bawah.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Adnan Oktar atau yang dulu memiliki nama pena Harun Yahya memiliki program berdiskusi dan berdansa dengan para wanita. Dalam program tersebut, mayoritas pengikut wanita Adnan Oktar tampak memiliki wajah dengan model serupa.

Baca Juga

Salah satu murid Adnan Oktar mengatakan, semua pengikut perempuannya memiliki tipe wajah dan tubuh yang sama karena berhubungan dengan pengalaman hidup Harun Yahya di masa lalu. Adnan Oktar hidup di kelab malam kelas bawah.

"Orang mesum ini tumbuh di Ankara, ketika ia masih muda dia biasa bergaul di depan kelab malam murahan di sana, penampilan fisik perempuan-perempuan di kelab itu tertanam di kepalanya," kata Beril Koncagul, salah satu mantan murid Harun Yahya, kepada surat kabar Turki Hurriyet, Selasa (12/2).

Baca juga, Harun Yahya Gabungkan Penari Perut dan Dialog Agama.

Harun Yahya menampilkan perempuan-perempuan muda yang menari bersama para laki-laki muda. Ia menyebut, perempuan-perempuan muda tersebut sebagai yavru atau anak kucing (kitten) dan laki-laki muda disebut aslanlar atau singa.

Pemimpin aliran sesat itu beserta para pengikutnya ditangkap pada Agustus 2018 lalu. Ia dihadapkan 30 dakwaan, antara lain, mendirikan organisasi kejahatan, pelecehan seksual di bawah umur, pemerkosaan anak di bawah umur, penculikan, menggelapkan pajak, dan melanggar undang-undang antiterorisme.

Media-media Turki menyebut Koncagül sebagai kesayangan Harun Yahya. Ia salah satu pengikutnya yang dibebaskan dengan syarat harus bekerja sama dengan penyelidik dan jaksa. Hampir lebih sembilan tahun Koncagul tinggal di rumah mewah Harun Yahya di Istanbul. Ia mengaku kerap diperkosa dan dilecehkan.

"Saya mencoba melarikan diri lima kali, tapi ia memiliki 60 penjaga bersenjata, ratusan kamera, dan perusak sinyal di vilanya, tidak mungkin bisa melarikan diri," kata Koncagul.

Ia menambahkan, Harun Yahya memiliki lebih dari 17 budak seks. Mereka semua diwajibkan melayani Harun Yahya setengah tanpa busana. "Ia memukuli kami, menyumpahserapahi kami, melecehkan kami, memaksa kami berhubungan seksual, kami dipaksa memanggilnya 'sayangku' apa pun yang ia lakukan," tambah Koncagul.

Semua pengikut perempuan Harun Yahya memiliki penampilan yang sama. Koncagul mengatakan, Harun Yahya membuat semua pengikut perempuannya melakukan operasi plastik sesuai yang ia inginkan.

"Dia membuat kami terlihat seperti perempuan di kelab malam murahan yang dia lihat saat muda, ada beberapa dokter wajah yang bekerja untuknya, tidak ada perempuan yang menolak melakukan operasi plastik," kata Koncagul.

Segala sesuatu yang ada di rumahnya harus didesain untuk kenyamanan Harun Yahya. Dua perempuan tanpa atasan harus memegang koran yang akan dibaca Harun Yahya atau memegang telponnya ketika ia sedang berbicara, sementara yang satunya lagi harus memasangkan kaus kaki sebelum menghangatkan sepatunya dengan blow-dryer.

"Ia juga melecehkan anak-anak, ia mengatakan, melakukan hubungan suami istri dengan siapa pun di atas tujuh tahun diperbolehkan, ia sering melecehkan remaja dengan membuat mereka mengenakan rok mini," kata Koncagul.

Koncagul mengatakan, Harun Yahya merasa lebih hebat dari nabi mana pun. Ia juga hanya berbicara tentang agama di televisi. "Kami tidak pernah mendengar dia menyebut Allah sekali pun di waktu yang lain," kata Koncagul.

Pada 4 Oktober lalu Pemerintah Kota Istanbul menghancurkan rumah mewah Harun Yahya yang dibangun tanpa izin. Rumah tersebut juga dipakai Harun Yahya untuk merekam acara televisinya yang aneh di mana ia mencampurkan khotbah agama dengan tarian sensual.

Pada 2006 Harun Yahya menulis Atlat of Creation yang berpendapat teori evolusi Darwin adalah akar dari terorisme global. Ia sudah menulis lebih dari 300 buku yang diterjemahkan ke dalam 73 bahasa.

Ia dianggap menggunakan agama sebagai kedok untuk melakukan aktivitas kriminal.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB