Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Netanyahu Janji Hormati Status Quo Yerusalem

Selasa 19 Jun 2018 14:21 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Ani Nursalikah

Sejumlah perempuan Palestina berdoa di Kompleks Al Aqsha Yerusalem pada pelaksanaan Shalat Jumat kedua Ramadhan 2018.

Sejumlah perempuan Palestina berdoa di Kompleks Al Aqsha Yerusalem pada pelaksanaan Shalat Jumat kedua Ramadhan 2018.

Foto: Ammar Awad/Reuters
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambangi Raja Yordania Abdullah II.

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambangi Raja Yordania Abdullah II pada Senin (18/6). Pertemuan itu dilakukan setelah hubungan keduanya sempat memburuk selama berbulan-bulan. Dalam kunjungan itu, Netanyahu menyatakan akan tetap berkomitmen terhadap status quo tempat-tempat suci di Yerusalem.

Raja Abdullah II mengatakan kepada Netanyahu, nasib Yerusalem harus ditentukan dalam perundingan antara Israel-Palestina. Menurutnya, solusi harus didasarkan pada pembentukan negara Palestina, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, yang berdiri di tanah yang direbut Israel pada 1967.

Kunjungan Netanyahu ke Yordania dilakukan menjelang kunjungan dua pejabat senior Pemerintah Amerika Serikat (AS) ke wilayah itu, yaitu penasihat pemerintah AS Jared Kushner dan utusan AS Jason Greenblatt. Keduanya akan mempromosikan rencana pembagian wilayah untuk Israel dan Palestina, termasuk Yerusalem.

Selain mengunjungi Yordania, Kushner dan Greenblatt juga akan mengunjungi Israel, Mesir, Qatar, dan Arab Saudi pekan ini untuk membahas rencana tersebut. Perincian dari rencana itu belum dirilis secara resmi. Namun pejabat Palestina khawatir rencana Pemerintah AS akan mendorong Palestina mendapatkan negara mini di Jalur Gaza, beberapa bagian di Tepi Barat, dan sedikit di Yerusalem.

Pemimpin Palestina Mahmoud Abbas mengatakan dia akan menolak rencana apa pun yang diajukan tim yang diutus Presiden AS Donald Trump. Menurut Abbas, AS telah kehilangan perannya sebagai mediator karena keputusan pro-Israel yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Palestina, yang akan menjadikan Yerusalem timur yang dicaplok Israel sebagai ibu kota negara mereka di masa depan, telah memutus kontak dengan pejabat AS sejak kebijakan Trump diumumkan. Raja Abdullah II juga menolak kebijakan Trump tersebut.

Yordania memiliki wewenang di Yerusalem Timur, dengan bertugas melayani sebagai penjaga situs-situs Muslim dan Kristen di sana. Kota Tua di Yerusalem, yang direbut dan dianeksasi oleh Israel pada 1967, adalah rumah bagi situs-situs suci Muslim, Kristen, dan Yahudi.

Pada Juli lalu, seorang penjaga keamanan yang bertugas di Kedutaan Besar Israel di Amman menembak mati dua warga Yordania. Menurut penjaga tersebut, saat itu seorang remaja telah mencoba menyerangnya dengan obeng.

Tak disangka Netanyahu justru menyambut penjaga itu layaknya pahlawan, yang tentu memicu kemarahan warga Yordania. Raja Abdullah II mengecam Netanyahu pada saat itu. Ia mengatakan semua orang di kerajaan itu marah oleh perilaku yang provokatif dan tidak dapat diterima dari Netanyahu.

Namun hubungan diplomatik kemudian kembali diperbaiki secara bertahap. Seorang duta besar Israel baru-baru ini dipindahkan ke Kedutaan Besar Israel di Amman.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA