Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Houthi Ancam Intensifkan Serangan Pesawat tanpa Awak

Senin 14 Jan 2019 08:17 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Pro-Houthi armed tribesmen attend a tribal gathering to show support to the Houthi rebels in Sana’a, Yemen, 10 December 2015.

Pro-Houthi armed tribesmen attend a tribal gathering to show support to the Houthi rebels in Sana’a, Yemen, 10 December 2015.

Foto: EPA/YAHYA ARHAB
Ancaman ini dikeluarkan setelah serangan mematikan Houthi pekan lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, SANAA— Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengancam akan melancarkan serangan-serangan dengan pesawat tanpa awak (drone) lagi. Ancaman ini dikeluarkan setelah serangan mematikan Houthi pekan lalu atas parade militer pemerintah Yaman.   

Ancaman tersebut menaikkan ketegangan antara pihak-pihak yang berperang di tengah-tengah usaha perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Juru bicara Houthi, Yahya Sarea, mengatakan serangan drone pada Kamis (10/1) atas pangkalan militer di Provinsi Lahaj, yang menewaskan sejumlah orang, merupakan operasi sah terhadap agresi.  

Sarea mengatakan, Houthi sedang mengembangkan drone yang dibuat sendiri. 

"Segera akan cukup persedian strategis untuk melancarkan operasi drone di fron-fron pertempuran pada saat yang sama," kata Sarea kepada wartawan di Sanaa, ibu kota yang dikuasai Houthi, Ahad (13/1).

Serangan atas parade militer tersebut terjadi sementara PBB berusaha memproses pembicaraan perdamaian antara Houthi, yang menguasai sebagian besar pusat-pusat kota di Yaman, dan pemerintah Abd-Rabbu Mansour Hadi dukungan Saudi, yang berpusat di kota pelabuhan Aden, Yaman selatan.

Sehari setelah serangan itu, koalisi militer yang dipimpin Saudi mengatakan pihaknya menghancurkan pusat kendali dan komunikasi Houthi yang digunakan untuk mengarahkan peswat-pesawat tanpa awak.

Houthi mengatakan pada November, mereka menghentikan serangan-serangan peluru kendali dan drone atas Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan sekutu-sekutu mereka di Yaman, tetapi ketegangan telah meningkat mengenai bagaimana melaksanakan perjanjian perdamaian yang ditaja PBB pada Desember di Hudaidah, kota pelabuhan Laut Merah.

Arab Saudi dan UAE memimpin koalisi Arab yang Muslim Sunni dalam perang Yaman setelah Houthi menggulingkan pemerintahan Hadi dari Sanaa pada 2014.

Negara-negara Teluk menuduh Iran memasok senjata kepada Houthi, tuduhan yang Teheran dan kelompok itu bantah. Pihak Houthi menyatakan mereka berperang melawan korupsi.

 

sumber : Reuters/Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA