Minggu, 14 Ramadhan 1440 / 19 Mei 2019

Minggu, 14 Ramadhan 1440 / 19 Mei 2019

Uni Emirat Arab Dituding Alihkan Pasok Senjata ke Gerilyawan

Rabu 06 Feb 2019 17:45 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Pasukan militer Arab Saudi berjaga di garis perbatasan dengan Yaman, di Kota Najran.

Pasukan militer Arab Saudi berjaga di garis perbatasan dengan Yaman, di Kota Najran.

Foto: AP/Hasan Jamali
UAE telah melatih dan mempersenjatai ribuan pejuang Yaman.

REPUBLIKA.CO.ID,  DUBAI— Amnesty International pada Rabu (6/2) menuduh Uni Emirat Arab (UAE) mengalihkan pasokan persenjataan senilai miliaran dolar AS dari negara-negara Barat dan negara-negara lain ke para gerilyawan tak bertanggung jawab yang diduga melakukan kejahatan perang di Yaman.

UAE dan Arab Saudi memimpin koalisi militer, yang juga meliputi pasukan setempat dari berbagai faksi di Yaman, untuk mengembalikan kekuasaan pemerintah yang diakui secara internasional. Pemerintahan tersebut didepak pada 2014 oleh kelompok Houthi, yang terkait dengan Iran. 

"Penyebarluasan kekuatan tempur ini menjadi faktor utama bencana bagi ribuan warga sipil Yaman yang telah tewas, sementara jutaan lainnya berada diambang kelaparan akibat dampak langsung dari peperangan ini," kata organisasi hak asasi manusia (HAM) itu dalam sebuah pernyataan.

Kantor Media Pemerintah UAE masih belum memberikan tanggapan terkait pernyataan Amnesty tersebut.

UAE telah melatih dan mempersenjatai ribuan pejuang Yaman, sebagian besar di provinsi-provinsi di wilayah selatan dan pesisir barat, sebagai bagian dari pasukan yang memerangi Houthi.

Houthi kini mengusai sebagai besar wilayah perkotaan, termasuk Ibu Kota Sanaa dan pelabuhan utama Hodeidah.

Negara-negara Barat yang sebagian besar menyediakan persenjataan dan intelijen bagi koalisi, telah menekankan agar perang hampir empat tahun di negara itu diakhiri setelah pembunuhan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi.

Peristiwa pembunuhan itu membuat mereka meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas Arab Saudi di kawasan.

Sejumlah organisasi HAM menuduh kedua pihak yang bertikai kemungkinan melakukan kejahatan perang, termasuk kekerasan terhadap para tahanan. Tuduhan itu ditepis kedua pihak.

Amnesty menyerukan kepada berbagai negara untuk menghentikan penjualan sejatan ke pihak-pihak yang bertikai sampai tidak ada lagi risiko besar bahwa persenjataan itu kemungkinan digunakan untuk melanggar kemanusiaan atau hukum HAM.

Konflik di Yaman secara luas dianggap sebagai perang antara Muslim Suni Arab Saudi dan Muslim Syiah Iran, yang dihasut oleh suatu pihak berpengaruh. 

Houthi membantah tuduhan bahwa Iran memasok mereka dengan persenjataan dan mengatakan bahwa revolusi mereka menentang korupsi.

 

 

 

 

 

 

Sumber : Reuters/Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA