Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Pangeran Salman akan Kunjungi Cina

Jumat 15 Feb 2019 18:18 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman

Foto: Saudi Press Agency via AP
Kunjungan tersebut bertujuan mempererat hubungan bilateral kedua negara.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) akan mengunjungi Cina pekan depan. Kunjungan tersebut bertujuan mempererat hubungan bilateral kedua negara.

"Kunjungan itu akan berusaha mempromosikan pengembangan hubungan Cina-Saudi yang lebih besar dan memperdalam kerja sama dalam inisiatif diplomasi ekonomi serta perdagangan 'Belt and Road' Cina," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Geng Shuang pada Jumat (15/2), dikutip laman The Straits Times.

Dalam kunjungan tersebut, Pangeran MBS akan melakukan pertemuan dengan Presiden Cina Xi Jinping. Selain itu, dia pun akan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Cina Han Zheng.

Selain Cina, Pangeran MBS telah dijadwalkan melakukan kunjungan ke beberapa negara Asia lainnya, antara lain Pakistan, India, Malaysia, dan Indonesia. Kedatangannya ke negara-negara tersebut juga membawa misi meningkatkan hubungan bilateral.

Pangeran MBS merupakan sosok yang cukup disorot dunia internasional. Dia diduga terlibat dalam kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi. Dia dibunuh di gedung konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada Oktober tahun lalu. Hingga kini jasad Khashoggi belum ditemukan.

Pekan lalu, New York Times menerbitkan laporan yang mengungkapkan Pangeran MBS pernah mengancam Khashoggi menggunakan peluru. Hal itu dilakukan bila Khashoggi tidak kembali ke Saudi dan mengakhiri kritikannya terhadap Riyadh.

Informasi tersebut diterbitkan New York Times dengan mengutip mantan dan pejabat luar negeri Amerika Serikat (AS) yang memiliki pengetahuan tentang laporan intelijen. "Komentar itu (penggunaan peluru) dibuat dalam percakapan antara Pangeran Mohammed dan ajudannya Turki Aldakhil pada September 2017 dan disadap oleh badan intelijen Amerika," kata New York Times dalam laporannya.

Beberapa hari sebelum percakapannya dengan Aldakhil, Pangeran MBS juga melakukan pembicaraan dengan ajudan sekaligus tangan kanannya Saud al-Qahtani. Dalam perbincangan tersebut, Pangeran MBS mengatakan kepada al-Qahtani bahwa Khashoggi semakin menjadi sosok yang berpengaruh.

Dia pun mengeluhkan tentang tulisan serta unggahan Khashoggi di akun Twitter-nya yang menodai citra dirinya sebagai seorang reformis berpikiran maju. Al-Qahtani merupakan salah satu tersangka yang terlibat dalam pembunuhan Khashoggi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA