Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

ISIS Coba Beri Perlawanan Terakhir

Selasa 19 Feb 2019 16:36 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Milisi ISIS

Milisi ISIS

Foto: Reuters
ISIS masih menguasai sepetak terakhir daerah di sebelah timur Sungai Eufrat, Suriah.

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHOUZ -- ISIS masih mencoba melakukan perlawanan di sepetak terakhir daerah yang mereka kuasai di sebelah timur Sungai Eufrat, Suriah. Mereka menyerang Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang didukung pasukan Amerika Serikat (AS) di malam hari.

"Mereka mencoba perang psikologi, tapi hanya itu, perang sudah usai dan kami menang," kata salah satu Komandan SDF yang menggunakan nama alias Baran, Selasa (19/2).

Ada beberapa tenda yang masih berdiri daerah terakhir yang dikuasai ISIS itu. Hanya ada sedikit orang terlihat, dua orang laki-laki dengan jubah panjang berjalan perlahan di padang rumput, seorang perempuan keluar dari tendanya, dan seorang laki-laki mengendarai sepeda motor menuju sungai.

Ada sekitar 300 milisi yang bercampur dengan ratusan warga sipil. Mereka menolak untuk menyerah dan berusaha untuk bernegosiasi dengan pasukan SDF yang telah mengepung mereka. SDF membawa beberapa orang jurnalis ke sebuah atap gedung untuk mengintip aktivitas warga dan pasukan ISIS di daerah tersebut.

Dari kejauhan beberapa kali terdengar suara tembakan. Seorang komandan di atas atap tersebut mengatakan suasananya tidak selalu hening. Beberapa hari yang lalu para milisi berusaha mengejutkan SDF dengan serangan malam. SDF sendiri tidak bisa melakukan penyerbuan atau melepaskan serangan udara karena masih banyak warga sipil yang berada di daerah itu. 

Baran mengatakan beberapa kali pasukannya melihat pasukan ISIS menggunakan warga sipil sebagai tameng mereka. Kebuntuan di desa Baghouz tersebut menjadi tanda berakhirnya kelompok militan yang sempat menguasai kota-kota besar Suriah dan Irak pada 2014.

Pada satu titik, ISIS sempat menguasai Aleppo sampai Baghdad, Irak. Menguasai daerah tersebut selama bertahun-tahun untuk memperluas wilayah mereka. Kini tinggal 300 orang milisi ISIS yang bertahan di Baghouz. Diyakini mereka petinggi-petinggi ISIS termasuk para sandera yang mereka bawa.

Salah seorang aktivis mengatakan pada Ahad lalu, ada perundingan yang menghasilkan kesepakatan gencatan senjata diperpanjang selama lima hari. Salah seorang yang terlibat dalam perundingan mengatakan ISIS meminta pintu keluar melalui provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak dan meminta mereka diizinkan untuk keluar dari Baghouz bersama warga sipil.

Orang tersebut tidak dapat menyebutkan namanya karena dia tidak berwenang untuk berbicara tentang perundingan tersebut. Ia mengatakan pembicaraan itu dilakukan secara tidak langsung.

Baran mengatakan ISIS sudah mengirimkan pesan supaya mereka dibiarkan untuk keluar bersama warga sipil, yang sudah diizinkan keluar dari Baghouz sejak pekan lalu. Mereka meminta pintu keluar menuju Idlib dan Turki. Tapi sejak hari Rabu pekan lalu tidak ada warga sipil yang keluar dari kantong terakhir ISIS tesebut. SDF membantah melakukan negosiasi dengan ISIS.

Organisasi pemantau hak asasi Suriah, Syrian Observatory for Human Rights yang bermarkas di Inggris mengatakan permintaan ISIS agar dapat mengevakuasi diri ke Irak juga ditolak. Mereka menyebutkan ISIS membebaskan 10 pasukan SDF yang mereka tahan pada Ahad lalu. Tapi, belum diketahui apakah mereka meminta imbalan atas pembebasan itu atau tidak.

Beberapa pasukan SDF juga mengaku beberapa orang rekan mereka sudah dibebaskan. SDF tampaknya menunggu sampai para anggota ISIS keluar dari Baghouz.

"Mereka tidak punya persediaan apa-apa di wilayah tempat mereka berada untuk satu pekan atau lebih," kata Baran. 

Tapi DierEzzor 24, kumpulan aktivis di timur Suriah mengatakan pada Ahad kemarin   ada beberapa truk yang sarat makanan masuk ke wilayah yang dikuasai ISIS. Mereka juga melaporkan tentang pembebasan pasukan SDF tapi mengatakan apakah ISIS meminta imbalan atas pembebasan tersebut atau tidak.

SDF dan koalisi yang dipimpin AS sudah memerangi ISIS di wilayah tersebut sejak September lalu. Dalam beberapa tahun terakhir mereka telah merebut semua wilayah yang dikuasai ISIS. Pertempuran tersebut menewaskan puluhan ribu orang dan menghancurkan kota-kota. 

Desa-desa dalam perjalanan menunju Baghouz hancur dan kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.

Organisasi kemanusiaan untuk pengungsi International Rescue Committee (IRC) mengatakan dalam beberapa pekan terakhir setidaknya sudah ada 62 orang tewas dalam perjalanan keluar dari wilayah yang dikuasai ISIS. Kebanyakan karena kelelahan dan malnutrisi.

Juru bicara IRC Paul Dohohoe mengatakan dua pertiga yang meninggal dunia adalah anak-anak dibawah satu tahun. Mereka meninggal entah dalam perjalanan atau saat hampir tiba di pengungsian. 

Dalam beberapa pekan terakhir lebih dari 30 ribu orang yang meninggalkan daerah yang dikuasai ISIS telah tiba di kamp pengungsian al-Hol di provinsi Hassakeh, Suriah utara. Hal itu meningkatkan populasi kamp tersebut yang kini mencapai hampir 42 ribu jiwa.

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA